Thursday, January 2, 2014

Inspirator Kebaikan

(tulisan yang dibuat sebagai dukungan untuk
kakak kami, Abdul Azis, founder Komunitas Sedekah Harian)

Oleh @alfa_jayanegara

2 hari entah apa yang bermasalah dengan kedua HP dan simcard hingga tak dapat maksimal bermain di dunia maya. Malam ini tersentak dengan gosip fitnah di socmed tentang beliau, Kakak kelas kebanggaan, sang inspirator kebaikan. Membaca "bagian awal" kisah fitnah perjuangan dakwahnya, terlintas pikiran bahwa banyak orang yang belum paham dengan maksud baiknya dan kalimat2nya hingga berprasangka negatif, mirip kisah Ustadz yang aktif pula di twitter itu. Tapiiiiiii....makin lama terlihat "aneh", ada yg bilang akun twitter beliau DM kalimat tak pantas pada lawan jenis. Saya langsung tahu itu bukan beliau, saya tahu itu bukan beliau. Bagaimana bisa beliau DM hal yang tak senonoh jika dalam kesehariannya sangat menjaga untuk tak bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya? Ada yang mengatakan "ah itu munafik, pencitraan di luar aja". TIDAK..!!! Saya mengenalnya lebih dari 10 tahun di dunia nyata..!! Kebaikannya di dunia nyata bukan pencitraan, saat tak ada media yang meliput atau bahkan tak ada orang lain yang melihat. Cukup Allah SWT yang menyaksikan.....

Kalimat dalam program terbarunya bisa jadi menimbulkan berbagai persepsi dan beragam tanggapan. Kami menjadi saksi bahwa itu bukan untuk mencari keuntungan duniawi, saya percaya kredibilitas beliau dan seluruh timnya. 

Teringat peristiwa 4 tahun lalu saat kami tak sengaja bertemu di halte transit Trans Jakarta, gembira karena cukup lama tak berkomunikasi sebelumnya. Saat itu beliau pulang mengisi acara sebagai trainer dan membawa parcel buah, kemudian dengan spontan dan cukup riweuh beliau membukanya dan memberikan sebuah pir (yap, beliau selalu ingin berbagi kebaikan apapun di manapun kapanpun pada siapapun). Setelah menanyakan kabar dan tujuan, hal serius yang pertama dan utama beliau bahas adalah "gimana ngajinya, masih kan?". Ya Rabb, sekian lama tak bertemu yang beliau perhatikan hanya tentang ngaji, bukan hal duniawi lainnya ^_^ . 

Setahun lalu ketika ada teman sakit dan diopname dalam waktu cukup lama, beliau dan programnya intens membantu sahabat tersebut. Acapkali pulang dari kantor beliau langsung datang ke RS tak peduli lelah atau hujan, dengan tulus mentraktir makan malam rekan - rekan yang menemani sahabat kami dan menitipkan dana taktis akomodasi mereka selama di RS, mengatur jadwal jaga, kemudian kembali ke rumah lebih larut. Seringkali saya meminta bantuan beliau karena memiliki akses jaringan luas, dan di tengah kesibukannya beliau sangat cepat memberi respon dan mempertemukan dengan orang - orang terbaik di bidangnya. Kak, begitu banyak kebaikan dan kerja sosial mu yang tak dapat detail saya ungkapkan.. Maafkan saya belum bisa berkontribusi pada program - program Kakak dan tim.

Rasanya tak sanggup lagi melanjutkan browse tentang fitnah2 itu, sangat geram dan emosi negatif lainnya. Spontan menghubungi beliau via WA and u know what justru beliau yang menenangkan saya seperti biasanya dengan kalimat bijaknya. Kak.....hatimu terbuat dari apa????


Pada akhirnya saya paham mengapa beliau bisa begitu tenang dan justru sibuk menenangkan kami yang esmosi berat, ya...karena beliau hanya ingin meraih ridho Allah SWT. Tak peduli cacian, fitnah, makian bertubi mendera. Beliau menganggap semua kritikan sebagai tanda cinta orang - orang dan menjadikannya bahan evaluasi. Ya Rabb.....saksikanlah......



Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah & Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, & kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yg ghaib & yg nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yg telah kamu kerjakan.


Ya Allah,, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu
telah berjumpa dalam taat padaMu
telah bersatu dalam dakwah padaMu
telah berpadu dalam membela syari’atMu
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong



Thursday, December 12, 2013

Awww... Mata Pelajaran Bahasa Inggris Dihapus dari Kurikulum SD?? Ini Pandangan Saya

Kopi panas sore ini seharusnya terasa lebih nikmat dari biasanya. Di luar hujan masih turun sejak siang. Di meja ada sepiring besar bolu hangat buatan sendiri untuk teman mengopi. Hampir sempurna bukan? Hanya sajaaa, ada satu hal yang membuat kopi sore ini menjadi berkurang kenikmatannya. Kabar yang disiarkan salah satu stasiun televisi sore ini menyebutkan bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris akan dihapus dari kurikulum di seluruh sekolah dasar di Ibukota. Kalimat “dihapus dari kurikulum” memiliki dua arti: 1.  tidak menjadi pelajaran wajib, atau 2. ditiadakan. Yang jelas, tidak akan ada kurikulum dan (apalagi) silabus mata pelajaran Bahasa Inggris yang mengatur kompetensi, indikator dan materi yang harus diajarkan pada jenjang sekolah dasar di DKI Jakarta.

Nah, ada beberapa poin yang merupakan uneg-uneg saya pribadi terkait permasalahan ini.

1.    Anggaplah mata pelajaran Bahasa Inggris tidak benar-benar dihapus, melainkan menjadi ekstrakurikuler. Jadi, siswa SD masih bisa belajar Bahasa Inggris. It’s good. Namun, dengan ketiadaan kurikulum dan (apalagi) silabus mata pelajaran Bahasa Inggris artinya tidak ada keseragaman materi pelajaran yang diberikan oleh tiap sekolah kepada siswa. Sekolah A, misalnya, memberikan materi A, B, C, D, J, Z. Sedangkan sekolah B hanya memberikan materi A, C, E. Ketidakseragaman ini nantinya akan lumayan merepotkan guru Bahasa Inggris SMP. Mengapaaa? Dengan dihapusnya Bahasa Inggris sebagai mapel wajib di tingkat SD, secara otomatis, bobot materi pelajaran di tingkat SMP turun “derajat”. Materi Bahasa Inggris SMP akan menjadi very basic (dengan kata lain, mengulang kembali materi SD). Hal ini berpotensi membuat siswa bosan karena mengulang lagi materi yang sudah pernah diberikan –apalagi siswa sekolah A yang sudah belajar sampai Z.

Kebetulan sekolah tempat saya mengajar termasuk salah satu sekolah pilot project implementasi kurikulum 2013. FYI, pada kurikulum 2013, materi Bahasa Inggris kelas 7 jauh lebih mudah dibandingkan dengan yang dirumuskan dalam KTSP (kurikulum sebelumnya). Materi Bahasa Inggris yang harus disampaikan kepada siswa kelas 7 sama dengan materi Bahasa Inggris tingkat sekolah dasar (karena siswa kelas 7 dianggap tidak belajar Bahasa Inggris saat mereka di SD). Pernah ada kejadian, seorang siswa kelas 7 berceloteh ke gurunya, “Ma’am, materinya begini-begini aja ya? Ngga ada yang lebih menantang ma’am?” Hehe... Anak itu bukan belagu, tapi ia jujur dan polos ia sampaikan perasaannya.

Materi pelajaran yang terlalu mudah tidak sehat untuk siswa, pun yang terlalu sulit. Sehingga seharusnya desain materi pembelajaran harus sesuai dengan tingkat kemampuan dan kapasitas siswa secara umum.

2.    Kemahiran berbahasa tidak bisa diasah dalam waktu satu-dua hari. Saya ingin membandingkan dua situasi. Situasi pertama: besok anda akan ujian Matematika, dan malam ini anda mempelajari semua materi Matematika yang pernah diajarkan oleh guru anda. Mungkinkah anda dapat nilai bagus esok? Sangat mungkin. Anda bisa memprediksi jenis-jenis soal dan rumus-rumus yang akan diujikan. Biasanya, untuk pelajaran Matematika, tipe soal dari satu ujian dengan ujian yang lain tak banyak perbedaan, angka-angka atau item “diketahui”-nya saja yang diganti (CMIIW). Situasi kedua: besok anda akan ujian Bahasa Inggris. Materi ujian Bahasa Inggris di sekolah saat ini didominasi oleh pemahaman bacaan. Pemahaman bacaan tentu erat kaitannya dengan penguasaan kosa kata (vocabulary). Lalu dapatkan anda memprediksi kosa kata apa saja yang akan keluar di tiap bacaan dalam kertas ujian dan kemudian menghafalkan artinya dalam satu malam? Errrrrr.....

Banyaknya kosa kata yang dikuasai seseorang berbanding lurus dengan banyaknya tulisan Bahasa Inggris yang ia baca. Semakin sering ia membaca, semakin kaya kosa kata. Maka belajar bahasa asing, semakin dini semakin baik – tentu tanpa mengesampingkan bahasa ibu.

3.   Di berita tadi disebutkan alasan dihapusnya Bahasa Inggris dalam kurikulum SD, yaitu untuk menjaga jiwa nasionalisme siswa. Jadi, menurut pemegang kebijakan pendidikan DKI Jakarta, menguasai Bahasa Inggris berarti mengikis nasionalisme orang Indonesia.
FYI, Soekarno dan Mohammad Hatta, founding fathers kita, menguasai Bahasa Inggris, Jerman, Perancis dan Belanda.
R.A. Kartini fasih berbahasa Belanda.
K.H. Agus Salim, seorang intelek yang berjuang dengan kemahiran diplomasinya, menguasai tujuh bahasa Asing: Arab, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Jepang dan Turki.
Dan masih banyak lagi para founding fathers ataupun orang-orang besar yang mencurahkan perhatian mereka akan nasib negeri ini yang menguasai lebih dari satu bahasa asing. Dan hal itu sama sekali tidak menurunkan tingkat nasionalisme mereka. Bahkan, R.A. Kartini dalam satu suratnya yang berbahasa Belanda, sempat menuliskan kritiknya tentang orang-orang Barat yang merendahkan orang bumiputera.

4.   Kebijakan penghapusan beberapa mata pelajaran di tingkat SD salah satunya dengan alasan mengurangi beban siswa agar tidak stres. Saya, dulu di SD belajar IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kesenian, Penjaskes, Alhamdulillah tidak stres. Teman-teman saya pun tidak ada yang stres. Jika kegiatan belajar mengajar diwarnai aura positif, belajar sambil bermain, tidak melulu punishment namun diseimbangkan dengan reward, guru yang ramah dan sabar, Insya Allah, jumlah anak stres akan jauh berkurang.

Aktivitas belajar di kelas seharusnya tidak melulu mencatat, menghafal kemudian mengerjakan latihan. Siswa senang mempraktekkan, melakukan, mengekspresikan. Kesenangan ini yang sering tak tersalurkan karena terbentur dengan sistem/ kapasitas guru. Setiap mata pelajaran bisa dipelajari dengan menyenangkan. Bahasa Inggris, misalnya, bisa belajar dengan menonton film, mendengarkan musik, membaca komik, bermain drama, teka-teki silang, dan masih banyaak lagi.

Tanpa ada yang dihapus, jumlah mata pelajaran siswa SD menurut saya masih wajar. Siswa stres bukan karena jumlah mapel-nya, namun lebih kepada metode pengajarannya.


Demikianlah beberapa poin yang menjadi uneg-uneg saya. Penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris di kurikulum SD, menurut saya, adalah sebuah kemunduran dalam bidang pendidikan. Di era persaingan global ini, seharusnya bahasa internasional ini dikenalkan lebih dini, agar sumber daya manusia Indonesia lebih mampu bersaing.