Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Tuesday, July 21, 2015

Tentang GOJEK dan Beberapa Tips ber-GOJEK

Kamu tau Gojek? Belum? Itu lho, ojek yang pake seragam jaket dan helm hijau, dan belakangan ini sangat mudah ditemukan di ruas-ruas jalan di Jakarta (dan mungkin juga di beberapa kota lain..). Tukang ojek ini bisa dicari dan di-booking via aplikasi smartphone. Quite practical...

Nah, saya mau share pengalaman pertama menggunakan jasa Gojek... Ya, seperti biasa, saya kalo sharing ya info level newbie... Dari newbie untuk newbies, hehe... 

Pertamaa... Karena saya newbie, saya cari info dulu tentang Gojek. Mulai dari cara bookingnya, availability drivernya, biayanya, kendalanya, sampai tingkah polah drivernya... Dan saya pilih untuk cari dan intip info melalui akun twitter Gojek di @gojekindonesia. Wah, pas diintip, lini masanya kok penuh komplain? Hahahaha... Kalo begini saya jadi ketar-ketir dag-dig-dug serr.. :-| Rata-rata komplain yang ada tentang tidak tersedianya driver, kemudian Gojek credit yang tetiba berkurang jumlahnya, ada pula segelintir yang mengeluhkan attitude driver. Saya bersyukur tau info-info ini lebih awal, jadi saya bisa nyiapin plan A, B, C untuk perjalanan saya... Hehe...

Keduaaa... Cara pembayaran driver Gojek ada dua: credit dan cash. Credit itu semacam sistem prabayar. Kita transfer sejumlah uang dan itu jadi kredit (baca: tabungan) kita. Setiap kita pake jasa Gojek, maka kredit kita akan terpotong otomatis sesuai ongkos service yang telah digunakan. Kalau cash ya yu know laaah.. Langsung kasih uang ke drivernya. Kedua cara pembayaran ini muncul di aplikasi ketika proses booking. Kita bebas memilih. Kalo jarang pake Gojek, mendingan bayar cash deh.. Karena sistem Gojek creditnya kadang eror. Asik sih kalo credit kita tetiba bertambah, tapi kalo tetiba berkurang tanpa alasan (duileh...) ? Paitt paitttt...Hikss...
Etapi berhubung kemarin saya dikasih credit gratis sebesar 50k sama temen saya yang baik hati nan chubby, saya jadi merasa nothing to lose untuk pake Gojek credit... Hehe..

Ketigaaa... Ini terkait dengan komplain terbanyak, tersering dan ter-riuh yang dilontarkan para pengguna jasa Gojek: ga dapet driver. Lebih bikin spaneng lagi ketika kita dapet notif "cannot find driver" padahal di Gojek map terpampang dengan jelas jumlah Gojek driver yang bejibun dalam radius 100 m dari posisi kita.  Dan saya merasakan hal iniiii....! Bahkaaan gojek driver yang lagi free bukan hanya terpampang di map, tapi di depan mata sayaaa.. Dan mereka ga mau ambil orderan sayaa... Huaaahuaahuaa..

Jadi, posisi saya di FX Sudirman, dalam kondisi kenyang (ya, biar kamu tau aja, trus kamu iri sama saya :-p). Saat saya galau nunggu respon dari driver di pangkalan Gojek FX, pak Abdul (doi ini driver Gojek yang bakal anter temen saya ke Pasar Minggu, tapi delay karena temen saya masih nunggu saya dapet driver) bilang kalo tempat tujuan berpengaruh ke cepet/ enggaknya orderan kita direspon. Kalo pas lagi banyak order, driver milih-milih juga. Mereka enggan ke tempat-tempat macet kayak Cileduk atau Kalimalang (ini kan lokasi rumah gueee, hikss). Tapi kalo kita beruntung, bisa aja dapet driver ke tempat-tempat tersebut, sekalian drivernya jalan atau mau pulang (biasanya pas malam hari).

Saran dari pak Abdul, destinasinya diganti. Kayak saya kemudian mengganti destinasi saya, dari Kalimalang jadi Pondok Bambu. Alhamdulillah, sekitar 5 menit nunggu, finally orderan saya ditanggapi oleh seorang driver yang sedang melintas di Plaza Senayan. Saya memang nggak diantar sampai depan rumah, karena destinasinya cuma sampe depan komplek. But it's fine....

Khusus tentang hal satu ini, menurut saya wajar driver-nya picky. Mereka dapet bonus berdasarkan jumlah order, bukan jumlah km atau jam kerja. Jadi mereka coba bekerja efektif dan efisien dalam mengambil order. Selama bisa milih, ya mereka akan milih order.. Kita juga gitu kan kalo kerja..? Efisien dalam mengeluarkan tenaga, tapi efektif dalam pencapaian target, hehe...

Keempat.. Mengenai driver itu sendiri. Alhamdulillah saya dapet driver yang baik. Saking baiknya sampai komunikasinya berbuntut: sms nanya udah sahur atau belum, hihi... Tapi maaf ya bang Gojek, komunikasinya cukup perihal perGojekan aja, jadi ngga satu pun smsnya saya balas. Hehe...

Terakhiir... Selama masa promo cebanRamadhan, boleh lah kasih tip buat drivernya. Ceban itu murah bingits untuk harga ojek. Tambahan dua atau tiga ribu bisa bikin drivernya senang dan rejeki kita berkah (aamiin).

Jadi begitulah petualangan pertama saya di dunia perGojekan. Ada galaunya, ada senengnya. Yang perlu diinget, driver Gojek juga manusia, butuh hidup dan menghidupi. Jadi coba wise aja menanggapi segala kekurangan, nggak perlu komplain berbumbu caci maki ☺ selamat berGojek ☺


Sunday, March 22, 2015

Sekali Mendayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui: Investasi Masa Depan Saat Berkendara


Haluuuu... buat yang udah baca postingan sayah sebelumnya Macet dan Keabsurdan Pengemudi, saya akui ajah, tulisan itu sebenernya belum selesai, hihihi... keburu ngantuk jadi endingnya dipercepat :D

Naaah, di postingan ini, saya mau melanjutkan dan menambahkan uneg-uneg.. masih berkaitan dengan kisah Jum'at petang ituuh... jangan pusiang bacanya yaaah, hehe...

Yak, mulai...!

Guys, barangkali kita pernah dengar atau baca cerita-cerita orang menggunakan moda transportasi umum dimana mereka punya kesempatan berinvestasi masa depan (baca: akhirat) dengan memberikan tempat duduk untuk penumpang wanita atau bumil atau yang sudah sepur, eh, sepuh. Sebuah tindakan mulia tiada tara dan tiada bandingnya (halah). Di kelompok ngaji saya, yang seperti itu disebut-sebut termasuk itsar, yaitu mendahulukan kebaikan untuk orang lain dibandingkan diri sendiri. Dan, kata guru ngaji saya, itsar itu tingkatan paling tinggi dalam sebuah ukhuwah aka ikatan persaudaraan dengan orang lain.

Selain memberikan tempat duduk, masih ada banyak tindakan mulia tiada tara yang lain yang bisa dilakukan ketika menggunakan transportasi publik, misalnya: dzikir di kendaraan, baca buku, atau ngobrol sama penumpang sebelah, jadi mengurangi kebetean di kala macet, hehe... atau, senyum dan memaafkan penumpang sebelah yang nggak sengaja nginjek kaki kita gegara kendaraannya ngepot (yang naik transjak pasti hafal banget sama kondisi kayak gini, hihihi...)... atau ngasih uang recehan ketika ada penumpang yang kekurangan ongkos, heuheu.. (mungkin ngga yah? ya, mungkin aja sih, satu diantara sejuta kasus, hehe...)

Naah, hal-hal kayak gitu kan ngga mungkin dilakukan sama yang berkendara dengan kendaraan pribadi, baik itu mobil ataupun motor. Saya pernah dengerin yang namanya dzikir pagi-petang al-ma'tsurat pake earphone. Earphone-nya cuma saya pasang di satu telinga aja, supaya tetap bisa konsentrasi dengan keadaan lalu lintas. Kemudiaan, apakah yang terjadi?? Saya fokus nyetir, tapi bener-bener ngga bisa fokus dzikir, haha... Sejak itu saya ngga pernah nge-earphone lagi, bahaya dan melanggar aturan :p

Saya juga ngga mungkin ngobrol sama pengendara lain untuk mengurangi kebetean, yang ada malah menambah kebetean, terutama pengendara yang posisinya di belakang saya, hihihi...

Dan untuk itsar, itu pastinya sulit banget. Misalnya saya ketemu ibu hamil, saya bilang, "bu, bu, silakan pake mobil saya untuk bepergian." eaaa... saya belum jadi milarder, jadi sepertinya ngga memungkinkan bagi saya mempersilakan orang yang membutuhkan untuk menggunakan kendaraan yang saya pake. hehehe...

Anyway, Allah is fair, gitu kan. Siapapun, dalam kondisi apapun, tetap bisa berinvestasi masa depan.

Kalau lagi mengendarai motor, kena macet, adanya trotoar kosong itu godaan luaaar biasa, hahaha... riders bisa dengan mudah ngetrek di trotoar. Tapi apa iya pantas? Saya kadang-kadang jadi pedestrian juga. Gondok kalau trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki, di take-over sama pengendara motor. Sakiiiiiittt... hihi... Jadi drivers/ bikers yang ingin investasi, cobalah untuk jangan pernah ambil space trotoar sebagai lajur kendaraan kita. Karena dibalik arogansi itu, ternyata ada yang diam-diam tersakiti ^_^

And theen... tau garis stop, kan? drivers/ bikers pasti tau, apalagi yang sering mantengin akun twitter TMC Polda Metro Jaya, hehe... Naah, kata TMC Polda Metro Jaya, di depan garis stop itu ada hak penyebrang jalan. Pernah lihat pedestrian nyebrang jalan dan kesulitan nyelip-nyelip diantara kendaraan yang berhenti di zebra cross? Saya pernah lihat, dan juga pernah merasakan. Sakiiiiit lagiii... (kayaknya memang pedestrian yang paling banyak tersakiti di jalan raya, heuheu..). Dear drivers/ riders, coba yuks memberi kemudahan bagi mereka yang ingin menyebrang lewat zebra cross. Kita ngga rugi apapun untuk berhenti di belakang garis stop.

Ada hal lain lagi yang bisa kita lakukan untuk berinvestasi. Dan ini yang paling berkaitan dengan pengalaman saya di Jumat petang itu: mendahulukan penyebrang jalan. Saya kadang menyetir mobil, sering menyetir motor, kadang menjadi pejalan kaki, sehingga saya memiliki sudut pandang dari ketiga posisi tersebut. Jika saya adalah driver mobil di kejadian Jum'at petang itu, saya akan mempersilakan pengendara yang ingin menyebrang. Kenapa? Ada kalanya, kita harus mempersilakan pengendara lain melaju, justru supaya tidak membuat kemacetan kian bertambah parah. Apalagi cuma memaksakan untuk maju setengah meter, kemudian stuck, yang tidak membuat kita lebih cepat tiba di tujuan. Diluar kasus itu, saya memang selalu memberi kesempatan orang lain menyebrang (jika jarak dan kecepatan kendaraan memungkinkan untuk berhenti, karena kalau memaksakan berhenti mendadak justru bahaya untuk kendaraan di belakang). Ngga sulit untuk memberi kesempatan orang atau kendaraan lain menyebrang (as long as mereka menyebrang di tempat yang tepat). Yang sulit itu melawan ego. Ego yang bikin drivers/ bikers enggan mengerem dan berhenti selama beberapa detik untuk memberi kesempatan orang lain menyebrang. Padahal, beberapa detik yang kita sediakan untuk mendahulukan penyebrang jalan, bisa saja menjadi sebuah kebaikan berlipat balasan dari-Nya.

Hal-hal yang saya sebutkan tadi adalah beberapa prinsip berkendara saya. Hal-hal sederhana, dan mudah. Tapi dibalik semua yang sederhana itu, tetap terkandung hal-hal yang bersifat filosofis, terutama bagi mereka yang percaya bahwa Allah itu menghitung setiap kebaikan dan keburukan, sekecil apapun. Eh, eh, saya sok jadi malaikat ya? hahaha... Sebenarnya siih, justru karena saya merasa banyak melakukan kesalahan, harus pintar-pintar mengambil kesempatan berinvestasi, walau cuma bisa yang kecil-kecil.

Buat yang mau share tips investasi masa depan saat mengendarai kendaraan pribadi, silakaaan... kolom komentar ngga pernah saya tutup, hihi... :)

Selamat berkendara, dan tetap safety riding yaa ^^

Friday, March 20, 2015

Macet dan Keabsurdan Pengemudi

HEYHOOOO....
Habis badai disiniiii, dan habis ngepel kamar karena lupa tutup jendela, air tampias menggenang bow.. wow, asik yaaah malem-malem pegang gagang pel ;p

btw guys, maghrib tadi pas ogut pulang dari sekolah, kondisi lalin Kalimalang yang ke arah Cawang muacet gokil. Alhamdulillaaah saya pulang lewat Jalan Pahlawan Revolusi Pondok Bambu yang lancar. Walaaauupun demikian, untuk bisa tiba di rumah, saya harus nyebrang jembatan di depan Universitas Borobudur yang posisinya di kanan jalan, which means, saya harus menyebrangi antrean kendaraan arah Cawang yang hampir stuck, gak bergerak.

Lajur arah Cawang terisi dua baris antrean kendaraan. Karena sopir mobilnya baik hati dan mau berhenti, saya bisa menyebrangi baris pertama. Pada baris antrean kedua, roda skuter saya sudah di sela-sela dua kendaraan, tinggal menunggu mobil yang di depan maju setengah meter aja, saya bisa nyelip melaju ke arah jembatan.

Naah, mobil yang di depan akhirnya bergerak sekitar setengah atau satu meter. Waktunya nge-gas dan nyelip... Eeeeh, tapi, tapi, nggak saya duga, mobil yang belakang maju perlahan, merapatkan bempernya ke roda skuter sayah. Lah? Sopirnya mau nabrak saya gituh? Saya masih binun gitu, kemudian dia belokin sedikit mobilnya, maju, stuck, dan nutup jalan saya untuk bisa sampai di jembatan. Muahahahahahahaaaa.... 

Ini sumpah kocak-kocak ngeselin gitu. Masalahnya gini loh, mobil itu maju atau nggak maju, nggak akan berpengaruh. Tuh mobil cuma bisa maju setengah meter dan akan tetap stuck dan bakal disitu-situ ajah posisinya. Dia nggak akan disalip siapa-siapa dan ngga akan diperlambat perjalanannya hanya dengan ngasih kesempatan satu orang rider menyebrang. Saya cuma butuh beberapa detik untuk melaju di depan mobil tersebut ke arah jembatan. Justru dengan nggak ngasih kesempatan saya nyebrang, posisi saya dan skuter saya menghalangi kendaraan di barisan pertama untuk melaju. Bikin tambah stuck.

Saya geleng-geleng kepala, nggak habis pikir. Tapi apa mau dikata. Yaudah, saya anteng aja nunggu kesempatan nyelip berikutnya, haha...

Iseng-iseng saya pengen tahu sopirnya kayak gimana. Oh, cewek berwajah tegang. Saya pandangin dia, dia pandang balik saya, Saya pelototin ajah, hihi... akhirnya doi memalingkan pandangan setelah beberapa saat beradu tatapan dengan saya  (kata ibu, setelah saya ceritain tentang ini, "ngga melotot aja matamu sudah besar. Apalagi melotot." hekekekekeee).

Doh, sumpah yaaa, perilaku sopir tuh kadang absurd, sulit dipahami dengan logika. Ngga mau disalip, kayak mau cepet-cepet ngacir ke bulan. Padahal mah cuma bisa maju setengah meter, terus stuck lagi, :)))

HOAAAMMM... ngantuk uy... hawanya ngajak bubuk banget iniiii...
Yuk, mari lupakan kekesalan, keheranan, ketidakmengertian, kekoplakan, keabsurdan dan ke-an yang lain yang terjadi hari ini :D 

Semoga bisa diambil pelajarannya...
Dadaaaahhhh.... met bobooo...







Wednesday, February 5, 2014

You Blame The Problem, But You Are Part of The Problem ~ Jakarta Dalam Macet dan Hujan.

Pagi ini tak berbeda dengan pagi sebelumnya, sebuah awal hari yang basah dengan guyuran hujan. Dan pagi basah selalu berimbas pada kondisi lalu lintas. Macet. Ah, macet sudah jadi makanan sehari-hari bagi warga ibukota, terutama di jam-jam berangkat dan pulang kantor. Dan semakin menjadi-jadi manakala hujan turun.

Ruas jalan Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu pagi ini tak lepas dari antrean kendaraan, terutama setiap menjelang persimpangan. Aku, seperti biasa, mengambil sisi lajur paling kanan, ikut mengantre bersama bikers yang lain. Antrean pemotor hanya satu lapis di sisi kanan antrean mobil. Itu masih wajar dan normal lho, karena jalur yang kami tempuh adalah jalur padat menuju pusat-pusat industri di timur Jakarta. Bandingkan dengan Jalan Raya Bekasi yang menghubungkan Bekasi dengan Jakarta, atau ruas tol dalam kota yang memberlakukan sistem contra flow karena kepadatan lajur yang tak berimbang, kondisi lalu lintas jalan ini masih wajar.

Sebagian besar pemotor mengantre, dengan sabar, walau kuyup diguyur hujan deras. Skuterku sedang berhenti saat dari arah berlawanan sebuah mobil (yang biasa-biasa aja, bukan yang luxurious lho) melaju. Kaca jendela di posisi pengemudi terbuka. Aku dengar teriakan-teriakan marah dari dalamnya.

“Masuk! Masuk! Kalian ini semua bikin macet!!! Hahh!!”

Ia melewatiku dan para pemotor lain perlahan sambil membentak, berteriak-teriak dan memukul-mukul pintu mobilnya sendiri. Si pengemudi mobil (yang biasa-biasa saja) itu ternyata sedang mengamuk pada para pemotor.

‘Apa-apaan sih ni orang?’ aku bersungut dalam hati. Ingin rasanya membentaknya balik, “Yang bikin macet itu yang satu orang bawa satu mobil!!”. Tapi urung kulakukan karena mobil (yang biasa-biasa saja) itu sudah melewatiku sehingga rasanya tak mungkin ia mendengar sekeras apapun aku berteriak.

Jengkel? Iya, aku jengkel. Seenaknya pengemudi tadi melempar kesalahan pada para pemotor. Apakah kami “menjajah” kedua lajur?? Nope! Antrean pemotor hanya satu lapis, lho! It’s normal! Ia tak berkaca bahwa mobilnya (yang biasa-biasa saja) yang ber-body besar dan diisi satu orang itu juga penyebab macet. Lucu ya? Definitely funny!

Benarlah kata Kang Emil, walikota Bandung, “You blame the society, but you are part of the society itself. You often blame the problem, but you are PART OF THE PROBLEM.”


P.S Tips saat macet: Cuma satu à Sabar. Ngga sabar di jalanan Jakarta? Probably, you are a newbie in this Capital City. Get accustomed yaaa dengan traffic disini... ngasih tau aja siy, gak bermaksud menggurui... piss lop en gahool :p 

Friday, January 31, 2014

Banjir Jakarta - Episode 1

Bismillahirrahmaanirrahiiim
Dengan menyebut nama Allah yang mencurahkan segenap rahmat-Nya dalam tiap tetes air hujan....

Ahad, 12 Januari 2014
Menjelang petang hujan tumpah dari langit, sangat deras. Berberat hati meminta undur diri dari majelis mulia setelah dikabari bahwa air mulai menggenangi areal tempat tinggal. Saat itu juga, atau tidak bisa pulang sama sekali.

Dengan mantap hati memacu skuter merah hitam dalam balutan mantel hujan merah jambu milik ibu. Hafal jalan-jalan yang biasa tergenang air setiap hujan tumpah, memilih rute yang agak lebih jauh, namun lebih aman. Siapa ingin motor mogok di tengah tumpahan hujan?

Tak lebih dari dua puluh menit, sampailah aku di depan masjid Al-Ikhlas, sebuah masjid besar di dalam komplek perumahan. Air menggenangi jalan. Hati ragu hendak melanjutkan, namun kepalan tangan tetap memacu gas, skuter maju perlahan. Aih, aih... semakin jauh semakin dalam genangannya. Tidak, tidak. Cukuplah, jangan maju lagi. Skuternya akan semakin tenggelam.

Aku menimbang-nimbang. Ah, tak apalah tempuh rute yang sedikit lebih jauh, namun (InsyaAllah) bisa mengantar dengan selamat sampai tujuan. Tergesa berputar balik, khawatir jalan alternatif juga tergenang banjir tinggi. Oh, saat itu benar-benar mendebarkan. Air dimana-mana. Ah, di depan sana terlihat rumah tujuan. Alhamdulillah.

***

Genangan air tak berhenti meninggi. Terus saja naik, naik, naik. Dimulailah evakuasi kendaraan dan perabotan. Ditengah sibuk kami, pintu diketuk. Salam diberikan oleh seorang perempuan di luar. Siapakah? Dibukakanlah pintu. Seorang ibu muda, tetangga kami, menggendong anak perempuannya berumur dua setengah tahun, dibuntuti suaminya yang membopong sebuah tas besar. Mereka berniat mengungsi. Tentu kami buka pintu lapang-lapang, mempersilakan ketiganya berbenah di lantai dua, senyaman mereka bisa. Syukur, syukur Alhamdulillah, selain lapangnya lantai dua, posisi kamar-kamar tidur kami di lantai satu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ruangan lain.

Mengisi penuh bak-bak mandi, baterai laptop, power bank dan sumber energi listrik lainnya adalah prioritas 
di tengah banjir yang tak jua surut. Tak tahu pada pukul berapa, tapi sebuah kepastian bahwa listrik akan dipadamkan.

Benarlah, jelang tengah malam, listrik padam.

Saat itu air menggenang setinggi mata kaki di dalam rumah. Gelap, kantuk menyergap. Menangkal hawa dingin, selimut-selimut ditarik. Diri yang kelelahan bisa tidur nyenyak malam itu.

***

Senin, 13 Januari 2014
Ributnya alarm berbunyi. Pukul empat menjelang subuh. Mata terbuka, menangkap bayangan ibu di ujung tempat tidur, sibuk dirinya dengan telepon genggam di kepalan tangan. Ah, ini hari Senin, sudah harus bertolak ke sekolah pada pukul enam.

“Sudah surutkah banjirnya?” pertanyaanku terlontar untuk ibu.
“Tidak surut. Semakin naik.” Jawaban diberikan tanpa wajahnya teralih dari telepon genggam.

Benarkah?? Sungguh, sungguh. Musibah banjir ini tiada yang menyangka keganasannya. Terhalanglah di hari itu pergi bekerja.

***

Kakiku menaiki satu persatu anak tangga. Di lantai dua ada lima orang tetangga bermalam, kugabungkan diri bersama mereka. Sibuknya ibu seharian itu memasak. Tak hanya untuk kami yang ada di rumah, namun untuk mereka yang kedinginan di luar. Malu sangat, jika rumahmu besar, kondisimu lebih lapang dibandingkan dengan tetangga kiri dan kanan, namun menutup mata pada mereka yang kesusahan.

Dari balkon, mata menatap setiap penjuru. Air. Hanya ada air. Di jalanan, sesekali tetangga melintas, menerjang banjir yang hampir sepinggang. Semua dipanggil dan ditanya, sudahkah mereka makan? Dimintalah masuk ke rumah bagi mereka yang belum mengisi perutnya. Satu orang, dua orang, bahkan ibu membekali sarapan untuk satu keluarga tetangga yang tak bisa memasak.

Sepanjang hari itu dihabiskan bercengkrama di lantai dua. Kadang ada gelak tawa, kadang terekspresikan rasa cemas kala memandang langit gelap. Ah, banjir belumlah memberi tanda surut. Jika hujan deras turun lagi, bertambah tinggilah air yang menggenang. Kasihan, kasihan mereka yang perabotannya terendam, lemarinya terguling, tempat-tempat tidurnya tenggelam. Cemaslah juga hati.

Evakuasi Mbah Ondol
Tetangga yang mendiami rumah persis di sisi kanan rumah kami berteriak memanggil ibu. “Adakah perahu?” tanyanya. Oh, astaghfirullah. Sungguh manusia mudah lupa. Ada seorang nenek tinggal disana. Mbah Ondol namanya. Segera ibu menghubungi salah satu petugas keamanan RT kami, meminta dikirimi perahu. Selang beberapa jam kemudian, perahu yang diatasnya ditumpangi anggota SatPol PP kelurahan tiba. Evakuasi Mbah Ondol berjalan mulus. Beliau diungsikan ke rumah cucunya yang tak terkena musibah banjir.

Hujan turun beberapa kali hari Senin itu. Kepasrahan menaungi kami. Ada lagikah jalan terbaik selain menerima dengan lapang? Tidak ada. Tidak ada. Toh semua yang hilang dan rusak akan terganti. Yang terpenting adalah kebersamaan kami sekeluarga, kebersamaan dalam keselamatan.

Kami bukan warga Jakarta yang mendirikan rumah di bantaran sungai, kami pun tidak pernah membuang sampah ke sungai. Bahkan warga kami menjalankan program biopori dan bank sampah. Normalisasi sungai di wilayah kami diekseskusi dengan sangat baik. Namun banjir ini tak pilih kasih. Kami menerima, walau kami sudah berusaha ramah dengan alam. Kami menerima, walau mereka yang tak pernah merasakan musibah ini dan tak tahu apa-apa tentang banjir berkicau pola hidup tak ramah lingkungan sebagai penyebab meluapnya air sungai. Kami menerima, ocehan-ocehan minim empati. Prasangka baik kami pada Sang Pemilik alam, musibah ini membersihkan sedikit legam hitam diri, mengikis sebagian dosa.

Senin malam, air banjir surut menyisakan lapisan tipis lumpur yang tak mau menunggu kami terlelap terlebih dahulu sebelum mulai mengeras. Malam sampai dini hari itu, orang-orang bekerja dalam temaram cahaya lilin, membersihkan rumah-rumah mereka dengan sisa air banjir yang ada. Listrik masih padam. Syukur pada-Nya, sebuah generator di rumah bisa menjadi tumpuan sedikit cahaya lampu terang dan air bersih.

Musibah banjir ini adalah yang pertama di 2014. Banjir yang tak diduga datangnya. Banjir yang mengejutkan warga karena dampak masifnya. Semoga semua yang terkena dampak musibah ini semakin tebal kesabarannya dan mampu membenahi diri. Mabruk bagi para relawan yang tak menyurutkan langkah walau ada sebagian orang yang nyinyir akan kerja mereka, orang-orang bermulut bau yang tak mampu membantu apa-apa. Bagi kami, korban banjir, bantuan dari manapun akan sangat bermanfaat. Kadar keikhlasan bukan ranah kami untuk menilai. Semoga Allah beri balasan berlipat ganda bagi para relawan.


*** end ***

Thursday, December 12, 2013

Awww... Mata Pelajaran Bahasa Inggris Dihapus dari Kurikulum SD?? Ini Pandangan Saya

Kopi panas sore ini seharusnya terasa lebih nikmat dari biasanya. Di luar hujan masih turun sejak siang. Di meja ada sepiring besar bolu hangat buatan sendiri untuk teman mengopi. Hampir sempurna bukan? Hanya sajaaa, ada satu hal yang membuat kopi sore ini menjadi berkurang kenikmatannya. Kabar yang disiarkan salah satu stasiun televisi sore ini menyebutkan bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris akan dihapus dari kurikulum di seluruh sekolah dasar di Ibukota. Kalimat “dihapus dari kurikulum” memiliki dua arti: 1.  tidak menjadi pelajaran wajib, atau 2. ditiadakan. Yang jelas, tidak akan ada kurikulum dan (apalagi) silabus mata pelajaran Bahasa Inggris yang mengatur kompetensi, indikator dan materi yang harus diajarkan pada jenjang sekolah dasar di DKI Jakarta.

Nah, ada beberapa poin yang merupakan uneg-uneg saya pribadi terkait permasalahan ini.

1.    Anggaplah mata pelajaran Bahasa Inggris tidak benar-benar dihapus, melainkan menjadi ekstrakurikuler. Jadi, siswa SD masih bisa belajar Bahasa Inggris. It’s good. Namun, dengan ketiadaan kurikulum dan (apalagi) silabus mata pelajaran Bahasa Inggris artinya tidak ada keseragaman materi pelajaran yang diberikan oleh tiap sekolah kepada siswa. Sekolah A, misalnya, memberikan materi A, B, C, D, J, Z. Sedangkan sekolah B hanya memberikan materi A, C, E. Ketidakseragaman ini nantinya akan lumayan merepotkan guru Bahasa Inggris SMP. Mengapaaa? Dengan dihapusnya Bahasa Inggris sebagai mapel wajib di tingkat SD, secara otomatis, bobot materi pelajaran di tingkat SMP turun “derajat”. Materi Bahasa Inggris SMP akan menjadi very basic (dengan kata lain, mengulang kembali materi SD). Hal ini berpotensi membuat siswa bosan karena mengulang lagi materi yang sudah pernah diberikan –apalagi siswa sekolah A yang sudah belajar sampai Z.

Kebetulan sekolah tempat saya mengajar termasuk salah satu sekolah pilot project implementasi kurikulum 2013. FYI, pada kurikulum 2013, materi Bahasa Inggris kelas 7 jauh lebih mudah dibandingkan dengan yang dirumuskan dalam KTSP (kurikulum sebelumnya). Materi Bahasa Inggris yang harus disampaikan kepada siswa kelas 7 sama dengan materi Bahasa Inggris tingkat sekolah dasar (karena siswa kelas 7 dianggap tidak belajar Bahasa Inggris saat mereka di SD). Pernah ada kejadian, seorang siswa kelas 7 berceloteh ke gurunya, “Ma’am, materinya begini-begini aja ya? Ngga ada yang lebih menantang ma’am?” Hehe... Anak itu bukan belagu, tapi ia jujur dan polos ia sampaikan perasaannya.

Materi pelajaran yang terlalu mudah tidak sehat untuk siswa, pun yang terlalu sulit. Sehingga seharusnya desain materi pembelajaran harus sesuai dengan tingkat kemampuan dan kapasitas siswa secara umum.

2.    Kemahiran berbahasa tidak bisa diasah dalam waktu satu-dua hari. Saya ingin membandingkan dua situasi. Situasi pertama: besok anda akan ujian Matematika, dan malam ini anda mempelajari semua materi Matematika yang pernah diajarkan oleh guru anda. Mungkinkah anda dapat nilai bagus esok? Sangat mungkin. Anda bisa memprediksi jenis-jenis soal dan rumus-rumus yang akan diujikan. Biasanya, untuk pelajaran Matematika, tipe soal dari satu ujian dengan ujian yang lain tak banyak perbedaan, angka-angka atau item “diketahui”-nya saja yang diganti (CMIIW). Situasi kedua: besok anda akan ujian Bahasa Inggris. Materi ujian Bahasa Inggris di sekolah saat ini didominasi oleh pemahaman bacaan. Pemahaman bacaan tentu erat kaitannya dengan penguasaan kosa kata (vocabulary). Lalu dapatkan anda memprediksi kosa kata apa saja yang akan keluar di tiap bacaan dalam kertas ujian dan kemudian menghafalkan artinya dalam satu malam? Errrrrr.....

Banyaknya kosa kata yang dikuasai seseorang berbanding lurus dengan banyaknya tulisan Bahasa Inggris yang ia baca. Semakin sering ia membaca, semakin kaya kosa kata. Maka belajar bahasa asing, semakin dini semakin baik – tentu tanpa mengesampingkan bahasa ibu.

3.   Di berita tadi disebutkan alasan dihapusnya Bahasa Inggris dalam kurikulum SD, yaitu untuk menjaga jiwa nasionalisme siswa. Jadi, menurut pemegang kebijakan pendidikan DKI Jakarta, menguasai Bahasa Inggris berarti mengikis nasionalisme orang Indonesia.
FYI, Soekarno dan Mohammad Hatta, founding fathers kita, menguasai Bahasa Inggris, Jerman, Perancis dan Belanda.
R.A. Kartini fasih berbahasa Belanda.
K.H. Agus Salim, seorang intelek yang berjuang dengan kemahiran diplomasinya, menguasai tujuh bahasa Asing: Arab, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Jepang dan Turki.
Dan masih banyak lagi para founding fathers ataupun orang-orang besar yang mencurahkan perhatian mereka akan nasib negeri ini yang menguasai lebih dari satu bahasa asing. Dan hal itu sama sekali tidak menurunkan tingkat nasionalisme mereka. Bahkan, R.A. Kartini dalam satu suratnya yang berbahasa Belanda, sempat menuliskan kritiknya tentang orang-orang Barat yang merendahkan orang bumiputera.

4.   Kebijakan penghapusan beberapa mata pelajaran di tingkat SD salah satunya dengan alasan mengurangi beban siswa agar tidak stres. Saya, dulu di SD belajar IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kesenian, Penjaskes, Alhamdulillah tidak stres. Teman-teman saya pun tidak ada yang stres. Jika kegiatan belajar mengajar diwarnai aura positif, belajar sambil bermain, tidak melulu punishment namun diseimbangkan dengan reward, guru yang ramah dan sabar, Insya Allah, jumlah anak stres akan jauh berkurang.

Aktivitas belajar di kelas seharusnya tidak melulu mencatat, menghafal kemudian mengerjakan latihan. Siswa senang mempraktekkan, melakukan, mengekspresikan. Kesenangan ini yang sering tak tersalurkan karena terbentur dengan sistem/ kapasitas guru. Setiap mata pelajaran bisa dipelajari dengan menyenangkan. Bahasa Inggris, misalnya, bisa belajar dengan menonton film, mendengarkan musik, membaca komik, bermain drama, teka-teki silang, dan masih banyaak lagi.

Tanpa ada yang dihapus, jumlah mata pelajaran siswa SD menurut saya masih wajar. Siswa stres bukan karena jumlah mapel-nya, namun lebih kepada metode pengajarannya.


Demikianlah beberapa poin yang menjadi uneg-uneg saya. Penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris di kurikulum SD, menurut saya, adalah sebuah kemunduran dalam bidang pendidikan. Di era persaingan global ini, seharusnya bahasa internasional ini dikenalkan lebih dini, agar sumber daya manusia Indonesia lebih mampu bersaing. 

Thursday, May 30, 2013

Belajar Bahasa Inggris di Resto Sushi? Bisaaa...


NYUSHIIIII....!!

Setelah wacana berbulan-bulan, akhirnya bisa dieksekusi juga. Yaay!

Saya dengan dua orang teman sepakat bertemu di sebuah mart di area sentra bisnis Senayan. Setelah nge-magnum sebentar disana, kami bertolak ke restoran sushi di sebuah plaza nggak jauh dari mart tempat meeting point kami.

Letak resto sushinya di lantai tiga. Bersemangat kami masuki restoran, aroma makanan laut merebak. Kami pilih seat yang ada sofa-nya, as always! Biar empukkss... hihi...

Waitress-nya menyodorkan buku menu yang langsung kami serbu (nepsong! :p). Nama-nama sushi yang ada di menu list dicetak dalam Bahasa Inggris. Nah, saat memilah menu yang akan dipesan, ada satu kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Bahkan teman yang rajin nyushi pun baru kali ini sadar bahwa kata itu eksis di dunia per-sushi-an, hehe.. Kata tersebut adalaaah: ROE.

Saya kepo dong. Langsung ngelontarin pertanyaan, “Roe itu.... telur ikan? Gambar sushinya sih pake telur ikan. Tapi kenapa ngga disebut fish egg  yak??”

 “Goooogliiiing...”

“Jangan lupa kasih tau gueh kalo udah nemu hasil googling-nya yaah...”  

Nah! Itulah respon teman-teman saya yang gak bisa ngasih pencerahan apa roe itu :p

Penasaran, saya langsung googling dengan keyword “roe definition”. Dari hasil penelusuran sang dewa google akhirnya kami tau bahwa roe itu memang sebutan untuk telur hewan laut yang disajikan sebagai makanan. Hewan laut berarti bukan hanya ikan aja lho ya, termasuk juga sea urchin, udang atau kerang besar.

Well, well... hang-out waktu itu emang seru be-ge-te, selain nikmatin magnum traktiran dan sushi yang enyak-enyak, sharing segala rupa kisah sedih dan bahagia (uhuy!), nambah pengetahuan juga.

Sooo, kalo bisa disimpulkan....
  1.  Belajar bisa dimana aja dan dari siapa aja
  2. Selama sense of learning kita tinggi, pasti bisa nemuin pengetahuan-pengetahuan baru dari hal-hal sekitar yang dianggap remeh-temeh atau biasa-biasa ajah.
  3. Kepo is good. Kalo ngga kepo, ngga belajar :P

Selamat beraktivitas semuaah, selamat belajar jugaaa dari hal-hal kecil di sekitar kita.. Semangat! :D


Monday, May 27, 2013

Kenalkan, ini Jakarta-ku.....


Jam digital di dashboard menunjukkan pukul 11.47 malam. Mobil kami merayap perlahan di padatnya lalu lintas ibukota.



“Oh em ji, ini udah mau midnite ya dan masih macet beginiii...” Saya berseloroh.

Teman saya yang waktu itu menyetir sudah berkali-kali menguap. Saya menawarkan diri untuk menggantikannya pegang kemudi, ia menolak. Sebenarnya kami sengaja pulang agak larut untuk menghindari macet, tapi nyatanya antrean kendaraan ini belum terurai bahkan sampai hampir tengah malam.

Sungguh kemacetan menghabiskan banyak waktu, tenaga dan biaya. Sayangnya, fenomena ini masih menjadi salah satu wajah ibukota.

Berbicara tentang Jakarta tak pernah lepas dari segala kompleksitas permasalahan yang telah menggelayutinya selama bertahun-tahun: macet, banjir, kriminalitas, masalah lingkungan dan beberapa yang lainnya. Jakarta bukan kota dimana penduduknya bisa berleha-leha, roda kehidupannya selalu in rush.Mobilitas warganya dimulai saat masih gelap, baru mereda saat malam telah larut. Mungkin ini alasan bagi sebagian orang menilai Jakarta bukan kota yang ramah. Hidup begitu keras di Jakarta, kata mereka.

Well, apapun kondisinya, bagi sebagian orang, Jakarta tetaplah menjadi kota yang spesial. Bagaimana tidak spesial, dengan kemacetan yang telah menjadi jamak, banjir yang tak bosan menyambangi, polusi dan kepadatan yang luar biasa, warganya tetap enggan pindah :D. Tentu banyak alasan yang melatarbelakangi keengganan mereka untuk tinggal jauh dari Jakarta. Mungkin terlanjur cinta, atau bisa juga karena terpaksa, misalnya karena tugas kerja :P

Buat saya pribadi, Jakarta menjadi istimewa karena tiap fase hidup saya bergulir disana. Saya bukan orang Betawi. Darah saya Jawa. Namun saya lahir, menghabiskan masa kecil dan mengumpulkan receh demi receh di kota ini. Tanah kelahiran, apapun situasinya, tetap menjadi tempat yang paling indah, bukan?

Namun di dunia ini ada jenis manusia yang kurang empatinya, atau memang senang meledek di dunia maya, tanpa menyadari bahwa komentar yang dilontarkan absurd. Contohnya orang-orang yang memberi komentar tentang Jakarta seperti dibawah ini: