Showing posts with label Simple Mind. Show all posts
Showing posts with label Simple Mind. Show all posts

Sunday, October 22, 2017

My First Pregnancy (Awal Mula Lubna Dihadirkan Dalam Kehidupan Kami)



Delapan bulan yang lalu, muncul dua garis ini pada test pack.

Tidak seperti pasangan lain yang cepat-cepat mengunggah di medsos (ya, tentu saja karena kehamilan pertama pasti exciting luar biasa ya), saya dan suami menahan diri (saya lebih tepatnya 😊).

***

Dua minggu setelah pernikahan kami terjadi percakapan berikut,

"Yang, aku kok pusing ngga ilang-ilang ya? Biasanya dibawa bobo-an sehari langsung ilang," saya mengadu pada suami.

"Ya dah, coba istirahat aja ya," jawaban standar suami.

Keesokannya,

"Yang, aku eneg nih dan agak diare," saya mengadu lagi.

"Minum obat diare ya, makan yang teratur," jawaban protokoler suami.

Keesokannya lagi,

"Yang, ini aku sakit apaan ya? Apa aku hamil? Kalau ngga hamil aku sakit apa dong? Aneh banget rasanya. Takutnya muntaber (memang masih agak diare sih walau gak muntah, hohoho)," lagi-lagi saya mengadu dan lagi-lagi direspon dengan jawaban standar, normatif, protokoler oleh suami.

Berhubung seumur hidup baru kali itu saya merasakan kondisi yang aneh, saya memutuskan untuk mencurigai diri saya hamil. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (keguguran karena kehamilan yang tidak diketahui, misalnya) saya tidak menunda pergi ke apotek untuk membeli dua buah test pack.

Hari itu juga saya tes urin. Saya yakin akan muncul dua garis pada test pack yang digunakan. Benarlah. Selang sekian puluh detik muncul garis merah samar sejajar dengan garis merah yang lebih pekat. I'm pregnant!

Orang pertama yang saya kabari tentu suami. Dan responnyaa... Sangsi 😑 (ia punya alasan merespon demikian).

"Tapi garisnya samar, sayang," kata suami.

"Sudah aku googling, samar atau pekat artinya sama yang, positif hamil," saya bersikeras.

Saya mengabari kedua orang tua saya, sedangkan suami malah pergi ke kakak perempuannya untuk mengkonfirmasi hasil tes pack 😄

Setelah mendapat jawaban dari kakaknya bahwa saya memang positif hamil, suami baru merasa yakin 😅 mengalirlah air mata syukur-nya (katanya sih begitu, saya ngga lihat, hehe).

***

Hari ini perut saya sudah endut sekali. Calon bayi di dalamnya juga begitu aktif. Saat sujud dan merasakan ia bergerak lincah, saya tersenyum-senyum sendiri. Semoga sehat selalu ya, nak. Enam atau delapan minggu lagi kita akan sama-sama berjuang 😊😊

Hemm, dan, baru hari ini saya berani mengunggah hasil test pack delapan bulan lalu 😄

Note: tulisan ini dibuat sekira awal Mei 2017 saat Lubna masih dalam kandungan. Si shalihah itu kini sudah 4 bulan usianya ;)

Sunday, June 4, 2017

Sepi itu Merdeka

Saat sepi bertamu,
bukan artinya keluh kesah akan bertandang pula
Saat sepi bertamu,
bukan artinya sedih akan pula hadir
Saat sepi bertamu,
bukan artinya rasa tak berarti akan menguntitnya

Sepi itu
memberi kesempatan dirimu melakukan apa saja yang diinginkannya
Sepi itu
memberi kesempatan dirimu memperhatikan apa yang dibutuhkannya dengan kadar seksama yang lebih dalam dari waktu biasa
Sepi itu
memberi kesempatan dirimu bereksplorasi
Sepi itu
membujuk dan merayumu untuk mencipta, berkreasi
Sepi itu
dirimu merdeka



Petang 9 Ramadhan 1438 H

Saturday, April 30, 2016

Dear Smokers...

Dear Smokers,
Apakah kamu menyadari bahwa asap rokok yang kau hisap itu bisa terbawa angin sampai beberapa meter dari tempatmu berada? Aku yang berdiri sejauh dua setengah meter darimu bisa mencium bau asap rokokmu.
Kamu tahu apa yang sedang kulakukan saat menghisap asap rokokmu? Saat itu aku sedang berikhtiar untuk menyehatkan tubuhku. Aku sedang berolahraga.
Betapa rasanya sia-sia berpeluh mengusir racun dari dalam tubuhku saat racun lain masuk melalui saluran pernapasanku tanpa bisa kuhindari.
Pagi hari di akhir pekan yang senggang, bukankah lebih baik kamu ikut berolahraga? Ikut menyehatkan jiwa dan raga? Ikut menjaga segarnya udara pagi yang menyehatkan?
Mengapa kamu memilih untuk menghisap dan (bahkan) berbagi racun dengan orang lain?

Dear smokers,
Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa rokok yang kau hisap saat mengendarai motor, terbawa angin beberapa meter ke belakang.
Saat itu posisiku persis di belakangmu. Mengendarai motor juga. Walau telah kulindungi sebagian wajahku dengan masker, asap rokokmu tetap bisa menyeruak masuk melalui celah-celah kecil yang ada. Aku mencium baunya!
Dengan kualitas udara ibukota sudah begitu beracun, mengapa kau tambah racun lain ke dalamnya? Udara ini diciptakan bukan untukmu seorang.

Dear smokers,
Mengapa teguran yang datang kepadamu seringkali kau tanggapi dengan rasa gusar?
Salahkah aku yang ingin menghirup udara segar?
Salahkah aku yang ingin hidup sehat?
Apa salahku sehingga kamu harus berbagi racun padaku?

Katamu, "semua orang akan mati. Yang merokok akan mati. Yang tidak merokok pun akan mati.
Yang merokok bisa sakit. Yang tidak merokok pun bisa sakit."

Kataku, "berhentilah makan hari ini juga. Karena yang tidak makan akan mati, yang makan pun akan mati."

Tuesday, January 5, 2016

Kisah Pemberkasan Pengajuan UMP: Bersandarlah Pada Allah, Bukan Bersandar di Bahumu.


Aku duduk di kursi yang tersedia di samping peron jalur 5 stasiun Tugu, Jogja. Kedua tanganku mendekap tas biru tua —satu-satunya tas yang kubawa. Jika tepat waktu, kereta yang kutumpangi akan tiba sekitar 15 menit lagi.

***

"Dek, pulang sekarang! Ada banyak berkas yang harus diurus!" 

Begitu salah satu isi pesan dari rekan mengajarku yang kuterima kemarin lusa. Bukan hanya satu orang  yang menyuruhku segera kembali ke Jakarta, tapi ada beberapa, yang semuanya merupakan tenaga honorer di sekolah.

Kabar tentang pemberkasan itu aku dapat tanggal 28 Desember. Pemberkasan yang dimaksudkan untuk mendapatkan honor UMP bagi para tenaga honorer di sekolah-sekolah di DKI Jakarta mensyaratkan diantaranya surat keterangan sehat dan bebas narkoba, serta SKCK dari kepolisian. Tiga berkas ini yang pengurusannya dianggap sulit dan butuh waktu. Sementara itu sekolah meminta berkas selesai tanggal 30 Desember.

Awalnya aku enggan pulang. Aku masih menikmati liburan bersama keluarga yang sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya. Dan waktu dua hari untuk menyelesaikan sekian banyak berkas menurutku tidak manusiawi. Rasanya seperti kacung saja.

"Kalau ngga ikut pemberkasan ngga dapet honor, dek!" Tulis teman yang sudah kuanggap kakakku di WhatsApp.

"Ya udah, aku out aja dari sekolah." Balasku santai.

"Edan! Cepetan pulang!"

Andai teman-teman berhenti membujukku kembali ke Jakarta, niscaya aku akan tetap berada di Jogja sampai awal tahun baru. Namun mereka terus memaksa dengan mengajukan beragam rasionalisasi lewat telepon dan pesan.

Baiklah. Aku mengalah. Aku mulai memantau ketersediaan tiket kereta secara daring. Awalnya, tidak ada tiket tersisa. Aku berharap ada yang melakukan pembatalan pembelian tiket. Aku hanya butuh SATU tiket saja. Cukup satu. Dan... setelah menanti sekitar satu jam... Yak! I got one!

***

Keretaku yang bertolak dari Surabaya datang pukul 22.05 —lima menit lebih lama dibandingkan jadwal seharusnya. Aku sudah menunggu di peron jalur 5, berdiri pada posisi dimana kuperkirakan gerbong satu berhenti. Cahaya lampu lokomotif menyeruak ke dalam bangunan stasiun utama Jogja ini. Rangkaian kereta berjalan perlahan memasuki stasiun. Oops! Gerbong satu melewatiku. Aku melangkah cepat membuntutinya. 

Ada cukup banyak penumpang yang turun. Aku menanti di samping pintu gerbong dengan sabar sampai tak ada lagi orang yang turun, baru kemudian aku memasuki gerbong dan mencari nomor kursiku.

Ah, syukurlah, yang duduk di sebelahku seorang perempuan juga. Niatku untuk tidur dengan nyaman di kereta sepertinya bisa direalisasikan.

Kereta berhenti sekitar sepuluh menit. Mbak yang disebelahku sudah terlelap lagi. Ia naik kereta dari Surabaya. Aku masih mencari posisi nyaman untuk tidur dengan tas yang masih kudekap.

Peluit berbunyi, kereta bergerak perlahan. Aku belum bisa memejamkan mata. Otakku masih berputar memikirkan cara paling efektif dan efisien agar bisa mendapatkan berkas-berkas yang kubutuhkan dalam waktu satu hari dimulai dari esok pagi. 

Jadwal tiba kereta di stasiun Jatinegara pukul 5.16. Berdasarkan pengalaman, keterlambatan kereta paling pahit sampai saat ini adalah satu jam. Masih cukup waktu untuk pulang dulu ke rumah dan mengambil berkas persyaratan pembuatan SKCK apabila kereta terlambat tiba. Rencanaku, pukul 8 aku sudah berada di POLRES Jakarta Timur untuk menyerahkan berkas. Sebelum ke POLRES, mampir sebentar ke rumah sakit untuk mengambil nomor antrian periksa kesehatan dan tes urine.

Aku tarik selimut yang telah disediakan untuk penumpang. Dingin betul gerbong ini. Beberapa saat lamanya mataku masih terbuka. Tanganku menggenggam tab. Aku membuka situs ini dan itu sampai kemudian kantuk mendatangiku. Aku terlelap diiringi suara rangkaian gerbong yang melintasi rel dan dua orang laki-laki bercakap-cakap di sebelah kananku.

Sepanjang perjalanan aku sukses tidur nyenyak. Hanya saja, sempat terbangun beberapa kali ketika petugas berbicara melalui pengeras suara, menginformasikan stasiun yang akan segera disinggahi. Namun aku bisa kembali tidur dengan mudah tak lama setelah kereta beranjak meninggalkan stasiun-stasiun tersebut.

***

Tiga puluh Desember menjelang pukul lima pagi kereta berhenti agak lama di stasiun Cikampek. Aku mengambil wudhu, kemudian shalat subuh di kursiku.

Kereta beranjak. Namun kemudian berhenti lamaaaa sekali di stasiun Karawang. Petugas mengumumkan bahwa kereta menunggu antrean. Sampai langit mulai kelihatan warnanya, kereta belum juga beranjak.

Pukul tujuh sudah. Aku mulai cemas. Jika tak tepat waktu, rencanaku buyar secara otomatis. Aku kembali memutar otak merancang plan B.

Kereta tak juga beranjak. Tak terhitung berapa kali aku menghela nafas, meredakan rasa cemas. Aku sudah melangkah cukup jauh, aku tak ingin gagal.

Ya Allah, jika ini rejekiku, akan Kau mudahkan jalannya. Jika ini bukan rejekiku, maka akan Kau bukakan rejeki dari pintu yang lain.

Aku berujar dalam hati, mengobati cemasku.

Ya Allah, segala sesuatunya baik. Apapun yang telah, sedang dan akan terjadi padaku adalah yang terbaik. Bukan pemberian dari manusia, melainkan pemberian dari Engkau. Artinya, bukan pemberian yang biasa tanpa makna.

Aku telah berusaha, bahkan mengalahkan ego-ku untuk meneruskan liburan, menarik uang tabunganku, mengorbankan waktuku. Aku yakin Allah akan menggantinya dengan yang setara atau bahkan lebih banyak.

Kereta beranjak perlahan. Ia bergerak tak meyakinkan. Benar saja, di stasiun selanjutnya ia kembali berhenti.

Apa yang bisa kulakukan? Pergi ke pintu, membukanya, melompat keluar dan berganti moda transportasi? Pfff, siapa jamin bisa tiba lebih cepat di lalu lintas pagi hari Rabu ini?

Aku membeku. Membeku yang sebenar-benarnya karena selimut sudah diambil oleh pramugara sementara AC gerbong masih perkasa menghembuskan hawa dingin.

"Allah, help me," bisikku sangat pelan sambil memandang ke luar jendela.

"Eh, maaf, aku tadi ketiduran. Ini di stasiun mana ya?" Mbak yang duduk di sebelahku baru terbangun rupanya.

"Oh... Kayaknya...emm...aku juga ngga tau..." Aku nyengir. Jendela berembun, sulit melihat tulisan di luar sana. Dia tertawa pelan.

Kami mulai berbincang agak panjang. Kereta tak kunjung bergerak.

***

Pukul 08.32 waktu Jatinegara. Menurut jadwal, seharusnya aku disini sejak tiga jam yang lalu. Keterlambatan kereta yang super buruk yang hanya diganti dengan permohonan maaf yang diulang-ulang.

Aku berjalan cepat melewati peron menuju pintu keluar. Kucari wajah tukang ojek langganan keluargaku disitu. Tak ada.

Aku menaiki satu per satu anak tangga jembatan penyebrangan yang terintegrasi dengan halte trans Jakarta. Dari atas jembatan aku cari tukang ojek yang sudah menungguku sejak jam 6 pagi. Oh, dia di bawah sana, di ujung tangga.

"Kang, ke Persahabatan," ujarku sambil buru-buru naik ke atas boncengan.

"Loh? Langsung nih, nggak pulang dulu??" Si ojek heran.

"Iyak, langsung aja," sahutku cepat.

Ini plan B. Tak mungkin kuburu SKCK pagi ini karena berkas persyaratan yang diperlukan ada di rumah, sedangkan tak ada siapa-siapa di rumah yang bisa dimintai tolong untuk mengantarkan berkas. Saat ini ada seorang teman menungguku di rumah sakit Persahabatan. Paling tidak aku bisa mencari informasi dan berdiskusi dengannya. Dan, jika aku tak bisa mendapatkan tiga dokumen krusial yang kubutuhkan, paling tidak hari ini aku bisa mendapatkan dua: surat keterangan sehat dan bebas narkoba.

Tapi bukankah hari ini kesempatan terakhir melengkapi berkas? Ya, biar Allah yang mengurusnya. Aku sudah disini untuk mengejar semuanya dengan maksimal. Itu bagian yang harus kuselesaikan.

***

Tanpa mandi, tanpa gosok gigi, tanpa sarapan, tanpa persiapan tempur yang memadai, aku berdiri di depan gedung tempat mengecek kesehatan dan urine.

Kubuka pintu gedung yang berkaca gelap itu. Woh, ramainya orang di dalam. Ramai betul seperti pasar di tanggal muda.

Welcome to the jungle.

***

Tak ada pengorbanan yang sia-sia.
Kalimat itu dilontarkan oleh salah seorang teman ketika kuceritakan bahwa aku harus mempercepat kepulanganku ke Jakarta dan mengorbankan waktuku bersama keluarga di Jogja. 

Kalimat itu sebenarnya terlontar asal saja. Sepik, istilah prokemnya begitu, tapi benar. Allah itu menghitung apapun yang hamba-Nya lakukan. Aku jaga niatku agar jika rejekiku Allah tambah, aku bisa lebih banyak bersyukur. Aku jaga niat itu agar "sepik" kawanku itu menjadi sesuatu yang benar dan bermakna.

Kondisi sempit, terjepit, ditimpa kecemasan, sungguh menjadi sebuah berkah. Rendah, papa diriku dihadapan-Nya. Tak ada daya, tak ada upaya jika bukan Allah yang berkehendak membantuku. Dekat sekali aku pada-Nya. Begitulah manusia, meneriakkan nama-Nya lebih nyaring saat kondisi menjepitnya.

Keyakinan bahwa Allah akan selalu menolongku, kewajiban untuk berikhtiar, doa yang dikirimkan oleh ibuku melalui WhatsApp, telepon dari bapak yang menanyakan progress-ku adalah bahan bakar yang menggerakkan kakiku melangkah. 

Dari kisah ini, tak tertutup kemungkinan aku dituding budak dunia. Itu masalah mereka dengan pikirannya. Biarlah. Yang kupegang erat adalah salah satu prinsipku: semakin banyak yang kumiliki, semakin banyak pula yang bisa kuberi. 

Di akhir tulisan ini aku ingin menggarisbawahi sebuah janji yang Allah peruntukkan bagi manusia: Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Tak perlu memberi celah sangkaan negatif hadir tentang-Nya. Jika kita yakin Allah senantiasa membantu kita, maka Ia membuka beragam jalan alternatif atau bahkan yang tak diduga untuk keluar dari kesempitan.

Aku berhasil menyelesaikan berkasku tepat waktu. Ada banyak peran teman-temanku dalam proses pemberkasan itu. Dan itu semua Allah Yang menggerakkan, atas izin-Nya.

Semoga bisa diambil hikmahnya.







Monday, November 23, 2015

Mendefinisikan Rindu



Rindu itu misalnya kamu berada di sebuah tempat yang duluuuuu kamu dan  dia, dia, dia menghabiskan waktu bersama-sama.

Rindu itu misalnya kamu kepingin banget ketemu orang-orang yang dirindukan, ketawa-ketiwi lagi, bersusah payah bareng lagi, tapi waktu dan tempat hanya menyediakan ruang bercakap dalam jendela-jendela percakapan (alias window chat!).

Rindu itu misalnya kamu menatap setumpuk pekerjaanmu, menjalani rutinitasmu sebagai seorang pekerja, tapi isi kepalamu bukan itu semua. Dalam kepalamu ada dia, dia dan dia yang pernah membuat pikiranmu dalam kondisi alpha.

Rindu itu misalnya kamu ingin berbincang, bertukar kisah dan ide, duduk bersama lebih lama, tapi lagi-lagi, ruang dan waktu hanya mengizinkanmu untuk bercakap menanyakan kabar, tak lebih dari lima-sepuluh menit.

Rindu itu misalnya ketika kamu membuka kembali folder-folder yang dibuat setahun dua tahun silam berisi fotomu dengan dia, dia dan dia, dan kamu bisa senyum-senyum sendiri, tapi hati kok sesak?

Rindu itu misalnya ketika kamu tanpa sengaja melihat barang yang identik dengan dia, dia, dan dia, tapi kamu kemudian menyadari bahwa bukan dia, dia dan dia yang sedang menggunakan barang tersebut. Sesak ya?

Rindu ini untuk dia, dia dan dia, yang pernah melangkah beriringan bersamaku sambil bertukar kisah dan berbagi semangat.
Rindu ini untuk dia, dia dan dia, yang hidupnya bukan sekedar untuk dirinya, namun dibagi untuk sahabat-sahabatnya.
Rindu ini untuk dia, dia dan dia, yang pernah menciptakan derai tawa tak usai yang terkadang ditujukan untuk kekonyolan diri sendiri.

Aku tuh rindu... rindu kalian...




Tuesday, July 21, 2015

Tentang GOJEK dan Beberapa Tips ber-GOJEK

Kamu tau Gojek? Belum? Itu lho, ojek yang pake seragam jaket dan helm hijau, dan belakangan ini sangat mudah ditemukan di ruas-ruas jalan di Jakarta (dan mungkin juga di beberapa kota lain..). Tukang ojek ini bisa dicari dan di-booking via aplikasi smartphone. Quite practical...

Nah, saya mau share pengalaman pertama menggunakan jasa Gojek... Ya, seperti biasa, saya kalo sharing ya info level newbie... Dari newbie untuk newbies, hehe... 

Pertamaa... Karena saya newbie, saya cari info dulu tentang Gojek. Mulai dari cara bookingnya, availability drivernya, biayanya, kendalanya, sampai tingkah polah drivernya... Dan saya pilih untuk cari dan intip info melalui akun twitter Gojek di @gojekindonesia. Wah, pas diintip, lini masanya kok penuh komplain? Hahahaha... Kalo begini saya jadi ketar-ketir dag-dig-dug serr.. :-| Rata-rata komplain yang ada tentang tidak tersedianya driver, kemudian Gojek credit yang tetiba berkurang jumlahnya, ada pula segelintir yang mengeluhkan attitude driver. Saya bersyukur tau info-info ini lebih awal, jadi saya bisa nyiapin plan A, B, C untuk perjalanan saya... Hehe...

Keduaaa... Cara pembayaran driver Gojek ada dua: credit dan cash. Credit itu semacam sistem prabayar. Kita transfer sejumlah uang dan itu jadi kredit (baca: tabungan) kita. Setiap kita pake jasa Gojek, maka kredit kita akan terpotong otomatis sesuai ongkos service yang telah digunakan. Kalau cash ya yu know laaah.. Langsung kasih uang ke drivernya. Kedua cara pembayaran ini muncul di aplikasi ketika proses booking. Kita bebas memilih. Kalo jarang pake Gojek, mendingan bayar cash deh.. Karena sistem Gojek creditnya kadang eror. Asik sih kalo credit kita tetiba bertambah, tapi kalo tetiba berkurang tanpa alasan (duileh...) ? Paitt paitttt...Hikss...
Etapi berhubung kemarin saya dikasih credit gratis sebesar 50k sama temen saya yang baik hati nan chubby, saya jadi merasa nothing to lose untuk pake Gojek credit... Hehe..

Ketigaaa... Ini terkait dengan komplain terbanyak, tersering dan ter-riuh yang dilontarkan para pengguna jasa Gojek: ga dapet driver. Lebih bikin spaneng lagi ketika kita dapet notif "cannot find driver" padahal di Gojek map terpampang dengan jelas jumlah Gojek driver yang bejibun dalam radius 100 m dari posisi kita.  Dan saya merasakan hal iniiii....! Bahkaaan gojek driver yang lagi free bukan hanya terpampang di map, tapi di depan mata sayaaa.. Dan mereka ga mau ambil orderan sayaa... Huaaahuaahuaa..

Jadi, posisi saya di FX Sudirman, dalam kondisi kenyang (ya, biar kamu tau aja, trus kamu iri sama saya :-p). Saat saya galau nunggu respon dari driver di pangkalan Gojek FX, pak Abdul (doi ini driver Gojek yang bakal anter temen saya ke Pasar Minggu, tapi delay karena temen saya masih nunggu saya dapet driver) bilang kalo tempat tujuan berpengaruh ke cepet/ enggaknya orderan kita direspon. Kalo pas lagi banyak order, driver milih-milih juga. Mereka enggan ke tempat-tempat macet kayak Cileduk atau Kalimalang (ini kan lokasi rumah gueee, hikss). Tapi kalo kita beruntung, bisa aja dapet driver ke tempat-tempat tersebut, sekalian drivernya jalan atau mau pulang (biasanya pas malam hari).

Saran dari pak Abdul, destinasinya diganti. Kayak saya kemudian mengganti destinasi saya, dari Kalimalang jadi Pondok Bambu. Alhamdulillah, sekitar 5 menit nunggu, finally orderan saya ditanggapi oleh seorang driver yang sedang melintas di Plaza Senayan. Saya memang nggak diantar sampai depan rumah, karena destinasinya cuma sampe depan komplek. But it's fine....

Khusus tentang hal satu ini, menurut saya wajar driver-nya picky. Mereka dapet bonus berdasarkan jumlah order, bukan jumlah km atau jam kerja. Jadi mereka coba bekerja efektif dan efisien dalam mengambil order. Selama bisa milih, ya mereka akan milih order.. Kita juga gitu kan kalo kerja..? Efisien dalam mengeluarkan tenaga, tapi efektif dalam pencapaian target, hehe...

Keempat.. Mengenai driver itu sendiri. Alhamdulillah saya dapet driver yang baik. Saking baiknya sampai komunikasinya berbuntut: sms nanya udah sahur atau belum, hihi... Tapi maaf ya bang Gojek, komunikasinya cukup perihal perGojekan aja, jadi ngga satu pun smsnya saya balas. Hehe...

Terakhiir... Selama masa promo cebanRamadhan, boleh lah kasih tip buat drivernya. Ceban itu murah bingits untuk harga ojek. Tambahan dua atau tiga ribu bisa bikin drivernya senang dan rejeki kita berkah (aamiin).

Jadi begitulah petualangan pertama saya di dunia perGojekan. Ada galaunya, ada senengnya. Yang perlu diinget, driver Gojek juga manusia, butuh hidup dan menghidupi. Jadi coba wise aja menanggapi segala kekurangan, nggak perlu komplain berbumbu caci maki ☺ selamat berGojek ☺


Monday, April 27, 2015

Ulasan Ringan Film "Guru Bangsa Tjokroaminoto"



Heyho…

Sudah nonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto? Belum? Better to watch it ASAP, karena jadwal tayangnya sudah mulai berkurang di bioskop-bioskop. Sayang lho kalau ngga nonton…

Hummm… Sebenarnya saya bukan tipe manusia yang doyan nonton di bioskop. Yaa, gimana yaaa, menurut saya siih, uang tiketnya lebih baik dialokasikan untuk keperluan lain. Kalau mau nonton film, mendingan streaming atau unduh, hehe… tapi untuk film-film berkualitas, terutama film Indonesia ♫ ♪ aku relaaakan puluhan ribu rupiaaahku ditukar dengan tikeet bioskoop ♪♫ *ndangdut*

Well, well…

Sampailah saya pada waktu dimana teman-teman di sekitar saya menjadikan film GBT buah bibir. Selain testimoni yang positif, petikan ucapan HOS Tjokroaminoto yang dalam dan terkenal itu: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” bikin saya kepo, tertarik dan segera menentukan jadwal nonton. Janjian sama ibu guru Nur dan bapak guru kembar, Rokhman dan Rokhim, fix nonton hari Kamis, tanggal 23 April kemarin.

Sekitar lima menit sebelum film dimulai, kami berempat sudah duduk manis di kursi studio. Nggak lama kemudian, film dimulai. Kami disajikan adegan serius, adegan lucu, dan bagian film yang disturbing (dikit sih…) yang bikin saya memilih untuk tutup mata. Ada pula bagian yang bikin kening berkerut dan hati bertanya-tanya, “tokoh itu siapa sih? Lokasinya dimana sih? Mau pergi naik kereta kemana sih?”. Dan bu guru Nur, si perempuan Aceh bertanya, “konco-konco itu artinya apa sih?” hehehe…

Nonton GBT itu harus super nyimak. Karena setiap dialog atau ucapan tokoh di film tersebut memberi petunjuk tentang alur kisah dan nama-nama tokoh atau nama tempat yang tidak dideskripsikan secara visual. Bagi penonton yang pengetahuan sejarah-nya biasa-biasa aja, kalau ada dialog yang terlewat ia dengar, maka akan cukup sulit untuk memahami kisah secara utuh. Contohnya saya, heuheuheu…

Bagi yang awam banget, film berdurasi dua setengah jam ini mungkin memang terasa monoton. Tapi mungkin begitulah hakikat (ceileh) film dengan genre biografi. Penonton yang ngga paham sejarah dan ngga punya minat dengan sejarah, akhirnya Cuma punya dua pilihan saat nonton: 1. Duduk bosan, dan 2. Ngobrol atau ketawa-ketiwi bareng rombongannya untuk mengusir kebosanan. Sayangnya, kami berempat satu studio dengan penonton awam yang tipe kedua, yang bikin suasana studio nggak nyaman dan membuyarkan konsentrasi kami. Plis guys, kalo kalian merasa ngga cucok dengan film yang ditonton, lebih baik langsung ke pintu EXIT atau bobok di kursi aja yaaaa…

Selesai nonton, lanjut acara makan bareng, dari jam 6 sore sampai jam setengah 9 malam. Kami makan gaya siput yah? Hehe… Maklum, nunggu pesanan lengkap aja butuh sekitar 15 menit, ditambah diskusi dan browsing-browsing tentang film yang baru aja ditonton. Buat orang seperti saya, yang masih lack of knowledge tentang sejarah, kegiatan pasca nonton yang seperti ini yang penting. Film itu “hanya” pancingan untuk menggali pengetahuan yang lebih banyak dari sumber-sumber lain. Misalnya gini nih, di film GBT, ada murid-murid H.O.S Tjokroaminoto yang dikisahkan tidak terlalu mendetail. Pasca nonton, akan sangat bermanfaat jika kisah mereka kita gali sendiri secara lebih dalam dan lebih mendetail, bisa dengan googling atau bertanya ke ahlinya. Buat nambah ilmu, jadi acara nontonnya bermanfaat.

Dari acara ngobrol-ngobrol sambil makan itu, terkuaklah penilaian tentang film GBT ini. Kami satu kata untuk kelebihannya: latar dan property yang benar-benar dikondisikan untuk sesuai dengan situasi awal tahun 1900an. Sangat baik sekali. Pemeran-pemeran tokoh di film tersebut juga berakting dengan baik. Wes, yang main kan sekelas Didi Petet, Christine Hakim, Sudjiwo Tedjo, Reza Rahadian. Termasuk orang-orang Belanda-nya, mantap aktingnya.

Kekurangan film ini, bagi kami berempat (ini subjektif banget ya), adalah alur cerita yang rumit. Ada bagian-bagian yang kami ngga ngerti. Menurut saya pribadi, konten film ini sangat padat. Sutradara dan penulisnya ingin menyampaikan momen-momen penting dan bersejarah yang dilalui oleh Tjokroaminoto, yang jumlahnya tidak sedikit. Terbatasnya durasi menjadikan momen-momen itu terkadang ditampilkan dengan sangat singkat. Ini yang sangat mungkin membuat penonton gagal paham dalam menangkap kisahnya. Jadi, alangkah baiknya bagi yang mau nonton film ini untuk membaca biografi H.O.S Tjokroaminoto terlebih dahulu sebelum masuk bioskop. Biografi yang singkat saja, misalnya dari Wikipedia, akan sangat membantu mencerna setiap bagian film ini.

Jadi…..

Terlepas dari kekurangannya, film Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah salah satu yang layak direkomendasikan untuk ditonton. Ini film dengan genre bagus: biografi, yang sarat dengan pengetahuan, nilai-nilai humanism, nasionalisme dan kearifan yang bersifat universal. Berapa banyak produser yang mau bikin film seperti ini? Rasanya ngga banyak. Nah, mumpung ada yang bikin, mari kita ramaikan bioskopnya, hehe… Kalau sebuah film laris kan biasanya banyak produser lain yang akan mengekor bikin film serupa…  Jadi, nanti akan banyak juga film-film berkualitas beredar… Kita nantikan film berkualitas lainnya ya… J


Sunday, March 22, 2015

Sekali Mendayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui: Investasi Masa Depan Saat Berkendara


Haluuuu... buat yang udah baca postingan sayah sebelumnya Macet dan Keabsurdan Pengemudi, saya akui ajah, tulisan itu sebenernya belum selesai, hihihi... keburu ngantuk jadi endingnya dipercepat :D

Naaah, di postingan ini, saya mau melanjutkan dan menambahkan uneg-uneg.. masih berkaitan dengan kisah Jum'at petang ituuh... jangan pusiang bacanya yaaah, hehe...

Yak, mulai...!

Guys, barangkali kita pernah dengar atau baca cerita-cerita orang menggunakan moda transportasi umum dimana mereka punya kesempatan berinvestasi masa depan (baca: akhirat) dengan memberikan tempat duduk untuk penumpang wanita atau bumil atau yang sudah sepur, eh, sepuh. Sebuah tindakan mulia tiada tara dan tiada bandingnya (halah). Di kelompok ngaji saya, yang seperti itu disebut-sebut termasuk itsar, yaitu mendahulukan kebaikan untuk orang lain dibandingkan diri sendiri. Dan, kata guru ngaji saya, itsar itu tingkatan paling tinggi dalam sebuah ukhuwah aka ikatan persaudaraan dengan orang lain.

Selain memberikan tempat duduk, masih ada banyak tindakan mulia tiada tara yang lain yang bisa dilakukan ketika menggunakan transportasi publik, misalnya: dzikir di kendaraan, baca buku, atau ngobrol sama penumpang sebelah, jadi mengurangi kebetean di kala macet, hehe... atau, senyum dan memaafkan penumpang sebelah yang nggak sengaja nginjek kaki kita gegara kendaraannya ngepot (yang naik transjak pasti hafal banget sama kondisi kayak gini, hihihi...)... atau ngasih uang recehan ketika ada penumpang yang kekurangan ongkos, heuheu.. (mungkin ngga yah? ya, mungkin aja sih, satu diantara sejuta kasus, hehe...)

Naah, hal-hal kayak gitu kan ngga mungkin dilakukan sama yang berkendara dengan kendaraan pribadi, baik itu mobil ataupun motor. Saya pernah dengerin yang namanya dzikir pagi-petang al-ma'tsurat pake earphone. Earphone-nya cuma saya pasang di satu telinga aja, supaya tetap bisa konsentrasi dengan keadaan lalu lintas. Kemudiaan, apakah yang terjadi?? Saya fokus nyetir, tapi bener-bener ngga bisa fokus dzikir, haha... Sejak itu saya ngga pernah nge-earphone lagi, bahaya dan melanggar aturan :p

Saya juga ngga mungkin ngobrol sama pengendara lain untuk mengurangi kebetean, yang ada malah menambah kebetean, terutama pengendara yang posisinya di belakang saya, hihihi...

Dan untuk itsar, itu pastinya sulit banget. Misalnya saya ketemu ibu hamil, saya bilang, "bu, bu, silakan pake mobil saya untuk bepergian." eaaa... saya belum jadi milarder, jadi sepertinya ngga memungkinkan bagi saya mempersilakan orang yang membutuhkan untuk menggunakan kendaraan yang saya pake. hehehe...

Anyway, Allah is fair, gitu kan. Siapapun, dalam kondisi apapun, tetap bisa berinvestasi masa depan.

Kalau lagi mengendarai motor, kena macet, adanya trotoar kosong itu godaan luaaar biasa, hahaha... riders bisa dengan mudah ngetrek di trotoar. Tapi apa iya pantas? Saya kadang-kadang jadi pedestrian juga. Gondok kalau trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki, di take-over sama pengendara motor. Sakiiiiiittt... hihi... Jadi drivers/ bikers yang ingin investasi, cobalah untuk jangan pernah ambil space trotoar sebagai lajur kendaraan kita. Karena dibalik arogansi itu, ternyata ada yang diam-diam tersakiti ^_^

And theen... tau garis stop, kan? drivers/ bikers pasti tau, apalagi yang sering mantengin akun twitter TMC Polda Metro Jaya, hehe... Naah, kata TMC Polda Metro Jaya, di depan garis stop itu ada hak penyebrang jalan. Pernah lihat pedestrian nyebrang jalan dan kesulitan nyelip-nyelip diantara kendaraan yang berhenti di zebra cross? Saya pernah lihat, dan juga pernah merasakan. Sakiiiiit lagiii... (kayaknya memang pedestrian yang paling banyak tersakiti di jalan raya, heuheu..). Dear drivers/ riders, coba yuks memberi kemudahan bagi mereka yang ingin menyebrang lewat zebra cross. Kita ngga rugi apapun untuk berhenti di belakang garis stop.

Ada hal lain lagi yang bisa kita lakukan untuk berinvestasi. Dan ini yang paling berkaitan dengan pengalaman saya di Jumat petang itu: mendahulukan penyebrang jalan. Saya kadang menyetir mobil, sering menyetir motor, kadang menjadi pejalan kaki, sehingga saya memiliki sudut pandang dari ketiga posisi tersebut. Jika saya adalah driver mobil di kejadian Jum'at petang itu, saya akan mempersilakan pengendara yang ingin menyebrang. Kenapa? Ada kalanya, kita harus mempersilakan pengendara lain melaju, justru supaya tidak membuat kemacetan kian bertambah parah. Apalagi cuma memaksakan untuk maju setengah meter, kemudian stuck, yang tidak membuat kita lebih cepat tiba di tujuan. Diluar kasus itu, saya memang selalu memberi kesempatan orang lain menyebrang (jika jarak dan kecepatan kendaraan memungkinkan untuk berhenti, karena kalau memaksakan berhenti mendadak justru bahaya untuk kendaraan di belakang). Ngga sulit untuk memberi kesempatan orang atau kendaraan lain menyebrang (as long as mereka menyebrang di tempat yang tepat). Yang sulit itu melawan ego. Ego yang bikin drivers/ bikers enggan mengerem dan berhenti selama beberapa detik untuk memberi kesempatan orang lain menyebrang. Padahal, beberapa detik yang kita sediakan untuk mendahulukan penyebrang jalan, bisa saja menjadi sebuah kebaikan berlipat balasan dari-Nya.

Hal-hal yang saya sebutkan tadi adalah beberapa prinsip berkendara saya. Hal-hal sederhana, dan mudah. Tapi dibalik semua yang sederhana itu, tetap terkandung hal-hal yang bersifat filosofis, terutama bagi mereka yang percaya bahwa Allah itu menghitung setiap kebaikan dan keburukan, sekecil apapun. Eh, eh, saya sok jadi malaikat ya? hahaha... Sebenarnya siih, justru karena saya merasa banyak melakukan kesalahan, harus pintar-pintar mengambil kesempatan berinvestasi, walau cuma bisa yang kecil-kecil.

Buat yang mau share tips investasi masa depan saat mengendarai kendaraan pribadi, silakaaan... kolom komentar ngga pernah saya tutup, hihi... :)

Selamat berkendara, dan tetap safety riding yaa ^^

Friday, March 20, 2015

Macet dan Keabsurdan Pengemudi

HEYHOOOO....
Habis badai disiniiii, dan habis ngepel kamar karena lupa tutup jendela, air tampias menggenang bow.. wow, asik yaaah malem-malem pegang gagang pel ;p

btw guys, maghrib tadi pas ogut pulang dari sekolah, kondisi lalin Kalimalang yang ke arah Cawang muacet gokil. Alhamdulillaaah saya pulang lewat Jalan Pahlawan Revolusi Pondok Bambu yang lancar. Walaaauupun demikian, untuk bisa tiba di rumah, saya harus nyebrang jembatan di depan Universitas Borobudur yang posisinya di kanan jalan, which means, saya harus menyebrangi antrean kendaraan arah Cawang yang hampir stuck, gak bergerak.

Lajur arah Cawang terisi dua baris antrean kendaraan. Karena sopir mobilnya baik hati dan mau berhenti, saya bisa menyebrangi baris pertama. Pada baris antrean kedua, roda skuter saya sudah di sela-sela dua kendaraan, tinggal menunggu mobil yang di depan maju setengah meter aja, saya bisa nyelip melaju ke arah jembatan.

Naah, mobil yang di depan akhirnya bergerak sekitar setengah atau satu meter. Waktunya nge-gas dan nyelip... Eeeeh, tapi, tapi, nggak saya duga, mobil yang belakang maju perlahan, merapatkan bempernya ke roda skuter sayah. Lah? Sopirnya mau nabrak saya gituh? Saya masih binun gitu, kemudian dia belokin sedikit mobilnya, maju, stuck, dan nutup jalan saya untuk bisa sampai di jembatan. Muahahahahahahaaaa.... 

Ini sumpah kocak-kocak ngeselin gitu. Masalahnya gini loh, mobil itu maju atau nggak maju, nggak akan berpengaruh. Tuh mobil cuma bisa maju setengah meter dan akan tetap stuck dan bakal disitu-situ ajah posisinya. Dia nggak akan disalip siapa-siapa dan ngga akan diperlambat perjalanannya hanya dengan ngasih kesempatan satu orang rider menyebrang. Saya cuma butuh beberapa detik untuk melaju di depan mobil tersebut ke arah jembatan. Justru dengan nggak ngasih kesempatan saya nyebrang, posisi saya dan skuter saya menghalangi kendaraan di barisan pertama untuk melaju. Bikin tambah stuck.

Saya geleng-geleng kepala, nggak habis pikir. Tapi apa mau dikata. Yaudah, saya anteng aja nunggu kesempatan nyelip berikutnya, haha...

Iseng-iseng saya pengen tahu sopirnya kayak gimana. Oh, cewek berwajah tegang. Saya pandangin dia, dia pandang balik saya, Saya pelototin ajah, hihi... akhirnya doi memalingkan pandangan setelah beberapa saat beradu tatapan dengan saya  (kata ibu, setelah saya ceritain tentang ini, "ngga melotot aja matamu sudah besar. Apalagi melotot." hekekekekeee).

Doh, sumpah yaaa, perilaku sopir tuh kadang absurd, sulit dipahami dengan logika. Ngga mau disalip, kayak mau cepet-cepet ngacir ke bulan. Padahal mah cuma bisa maju setengah meter, terus stuck lagi, :)))

HOAAAMMM... ngantuk uy... hawanya ngajak bubuk banget iniiii...
Yuk, mari lupakan kekesalan, keheranan, ketidakmengertian, kekoplakan, keabsurdan dan ke-an yang lain yang terjadi hari ini :D 

Semoga bisa diambil pelajarannya...
Dadaaaahhhh.... met bobooo...







Tuesday, January 20, 2015

A Memory From Early Childhood

by Goker Kececioglu*


I was so young that I do not even remember how old I was but I remember my conversation with daddy and all its details. We were walking on the sidewalks and I was holding his finger instead of holding his hand.My hands were very very little when they are compared to daddy's ^_^

I do remember what I was asking him to buy me.Everyday we go out together, I was asking him to buy me a computer...It was first years of computers and it was really so hard to get one :D

It was a sunny day and when we are walking back home from the park I asked daddy to buy me a computer. He was talking to me as if I am as wise and old as himself. He told me "My Dear Son, talking is cheap, promising is easy. And the hard thing is making them come true. I would promise you now and wait you to forget or change your mind about it. But I do not want to make you dream because if you have dream about something you cannot reach you would just be disappointed..." I was sad and when I close my eyes I can remember the way my face looked like. I thought that he was just ignoring my wills but when I become older I understood him very well...

Why do I tell that to you???

Because I want you to know the truth of life too. So both you and the ones you love would be in better relationships. Moms and Daughters, Dads and Sons, Brothers and Sisters, even Friends :)

Talking is cheap, promising is easy. And the hard thing is making them come true. So before you do promise think once more ;)


*Goker is one of my good friends whom I used to talk with. A Turkish who is sooo patient, caring and mature and he never dares to hurt anyone. May Allah bless you, Gok :)

Wednesday, January 14, 2015

Hidup Bahagia = Hidup Dengan Passion


“Kak, saya masih bingung jurusan kuliah yang mau saya ambil. Menurut kakak saya sebaiknya pilih jurusan apa ya?”

Banyak pertanyaan sejenis itu terlontar ke saya. Dan setiap pertanyaan mendapat jawaban yang sama: “Selama dua belas tahun sekolah, pelajaran apa yang paling kamu suka? Pilih jurusan yang field-nya sesuai dengan kesukaan kamu.”

Sama halnya dengan mereka yang bingung hendak berkarier di bidang apa, saya selalu menyarankan agar mereka bergelut di bidang yang mereka sukai.

Bagi saya, rasa suka ibarat sebuah titik cahaya yang menerangi jalan kita menuju sebuah tempat bernama passion. Mengetahui apa yang kita sukai ibarat mengetahui jalan menuju passion. Passion itu sendiri, menurut pendapat saya, adalah sesuatu yang sebenarnya lebih dari sekedar apa yang kita sukai. Ia adalah sebuah alasan mengapa seseorang bisa bangun begitu awal atau tidur terlalu larut dengan perasaan senang dan ketertarikan yang sangat.

Rasa suka itu yang mengantar saya menjadi seperti sekarang ini. Bahasa Inggris, mungkin belum mencapai taraf passion saya, tapi ia adalah sesuatu yang sangat saya sukai sejak kecil. Saya bergembira menonton Sesame Street,mengikuti Count Dracula berhitung, atau mengikuti Big Bird mengucapkan kata-kata. Saya senang setiap kali ada pelajaran Bahasa Inggris di sekolah. Pada usia SD, saya adalah anak cerewet yang sok tahu mengucapkan kosa kata Bahasa Inggris sederhana yang ada dalam buku pegangan siswa, hehe…

Rasa suka ini pula yang mengalahkan gengsi. Saat di SMA, teman-teman saya berbondong-bondong ingin masuk kelas IPA yang hanya tersedia dua kelas, IPA 1 dan IPA 2, dari keseluruhan enam kelas paralel yang ada. Ya, mungkin itu passion mereka. Tapi bukan passion saya.

Jelang penjurusan, wali kelas saya menyodorkan sebuah form kepada setiap siswa. Setelah saya menulis di form yang diberikan oleh wali kelas bahwa saya ingin masuk IPS, tidak berapa lama kemudian wali kelas saya menghampiri. Beliau mengonfirmasi, apakah benar saya ingin masuk kelas IPS. Saya mengiyakan dengan memberikan alasan bahwa saya ingin kuliah di jurusan bahasa dan sastra. Mengikuti program IPS adalah jalan yang efektif dan efisien untuk mencapai keinginan saya. NIlai mata pelajaran MIPA saya tidak jelek, saya bisa masuk IPA yang diidam-idamkan banyak siswa. Tapi sekali lagi, itu bukan passion saya. Terlebih, saya melihat kakak-kakak kelas saya di kelas IPS yang berprestasi dan banyak diterima di PTN, semakin terkuburlah gengsi.

Mengapa mengikuti passion begitu penting? Yang pasti setiap orang memiliki pendapat yang berbeda. Saya pribadi berpendapat bahwa hidup itu bergelombang, ada naik ada turun, ada sukar ada mudah, namun setiap kesukaran yang dihadapi saat bergelut dengan passion kita, tak akan membuat kita mundur. Sebaliknya, ia akan menjadi guru yang baik, yang memberikan ilmu dan kekuatan lahir dan batin kepada kita tentang bagaimana mengatasinya.

Orang lain bisa jadi memandang kita dengan bergidik, lebih parah lagi menilai kita bodoh saat mengikuti passion kita. Ucapan, “hah? Skripsi lo pake Bahasa Inggris??” dengan intonasi ngeri sudah jamak saya dengar, hehe… Kalau dibayangkan memang sulit, tapi toh bisa selesai juga jika dikerjakan. Passion itu yang menjadi energi.

Apapun yang kita jalani, termasuk pendidikan dan pekerjaaan, semua akan nikmat ketika passion menjadi alasannya. Gaji besar tidak menjamin kebahagiaan seseorang dalam menjalani hari-harinya. Bersenang-senang, berpesta, gathering tidak menjamin pelakunya bahagia saat melakoninya. Bahkan travelling (yang sangat saya sukai) malah bisa jadi sesuatu yang tidak menarik bagi orang lain (buat babang saya, si Papay, misalnya, haha). Justru berkutat dengan tumpukan buku referensi tebal, bergelut dengan fungsi-fungsi dalam coding, atau menghadapi siswa bermasalah, bisa menjadi sesuatu yang menarik yang membuat seseorang merasa tertantang untuk menghadapinya.

Jika disederhanakan, tidak ada yang terlalu sulit, terlalu rumit atau terlalu melelahkan ketika seseorang mengikuti passion-nya. Karena excitement dalam menjalaninya, mengikis ketiga hal tersebut.

Bagi yang telah menemukan passion, selamat bertualang dan berbahagia menjalani hidup. Untuk yang belum, cobalah selami dan gali apa yang menjadi kesukaan kita. Semoga bisa menjadikan kita produktif dan bermanfaat bagi sesama.

Monday, December 22, 2014

Cinta Tertinggi Manusia, Cinta Bapak dan Ibu

Aku melihat Bapak dan Ibu menjaga dan merawat cucu.

"Ya, ini seperti menjaga kamu dulu waktu bayi," kata Bapak.

Seperti menjagaku dulu saat aku bayi...?

Jadi... aku ditemani, digendong, dinyanyikan lagu, disuapi, tanpa pernah keduanya menunjukkan rasa kesal...
Walau makanan yang sedang disuapi disemburkan keluar lagi
Walau terkadang si bayi menangis berkepanjangan
Walau pegal tangan terasa akibat menggendong terlalu lama
Walau segala barang di rumah berantakan karena ulah bayinya

Semua yang dilakukan anak bayinya, dianggap baik

"Anak pintaar..." kata Ibu saat makanan disembur keluar mulut oleh cucu laki-lakinya...

Begitukah dulu waktu aku bayi?

Bahagia saat bayinya mulai bisa berinteraksi..
Bahagia saat bayinya mulai bisa menggenggam...
Bahagia saat bayinya mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI..
Bahagia saat bayinya mengenakan sepatu pertamanya...

Lalu pada akhirnya, anak-anak yang dengan peluh dan payah dibesarkan, mereka lepas untuk hidup bersama orang lain... mereka lepas dengan bahagia...

Cinta itu biasanya terbungkus ego. Apa yang dicintai, itulah yang ingin dimiliki, tidak dibagi.
Namun berbeda dengan cinta Bapak dan Ibu. Dengan kerelaan yang tak setengah-setengah, keduanya memberikan yang mereka cinta kepada orang lain...

Tak ada cinta manusia yang setinggi cinta Bapak dan Ibu, yang rela melepas anak-anak yang dicinta
demi melihat mereka bahagia...

Selamat Hari Ibu... Selamat Hari Bapak... :)


Saturday, August 24, 2013

Minuman Soda itu Ujian Hidup!!

Ramadhan hari ke... entah deh, gue lupa...

Gue lagi di rumah, akur sama adek gue, si Ochie, nonton TV. Pas lagi ada iklan minuman soda yang terkenal seantero jagad, gue nyeletuk, “Udah lama yaa kita gak minum itu...”

Adek gue ngerespon, “gak bakalan juga dibolehin ibu minum gituan.”

“Yaelaa, terakhir gue minum setahun lalu pas lebaran...” kata gue. Ya, maksudnya, sesekali gak apa-apa laa minum produk soda itu.

Nyokap gue emang agak strict soal kesehatan. Doi minimalis banget sama produk instan, produk soda, produk yg berpengawet, makanan/minuman yg warna-warni, junk food, yaa yang kek gitu lah... bagi nyokap: Viva sayurrr! Viva ikaaan! Viva buah-buahaaan! Viva air putiiiih! Hahaha...

Gak gue pungkiri gue beruntung punya nyokap yang kayak gitu, tapi kadang ngerasa buntung juga sih kalo sekedar icip-icip aja gue dilarang... alhasil, gue kadang suka curi-curi kesempatan.. hohoho, jangan bochooor ke nyokap gue ya pembacaaa!

Eniweeeii... sehari setelah percakapan gue sama Ochie, ada tamu datang ke rumah. Mereka bawa oleh-oleh buat kami... u know what?? Selain biskuit, mereka bawa dua botol minuman soda yang sebelumnya gue lihat iklannya di tv, masing-masing netto 1 liter... alamakk! Pucuk dicinta doi tiba! Aww ~~

Hati gue nyeletuk bahagia, “Allah bae bener, kemarin pengen minuman ini tau-tau langsung dateng dua liter...”

Tapi sedetik kemudian celetukan hati gue berubah, jd suspicious, “tapi kenapa Allah kirimin gue minuman gak sehat lewat tamu itu?? Wah, ini sih bukan nikmat yg biasa kali yak... ini nikmat UJIAN!”

Yah, begitulah gue mengambil kesimpulan, subjektif. Lucuk? Ribet? Iya kali... Gue sendiri juga gak tau kesimpulannya bener apa engga, tapi yang jelas menurut gue minuman soda kek gitu emang gak sehat sih (doktrin nyokap gue berhasil yahhh...). Meanwhile, Allah kan cuma pengen yang baik-baik aja buat hambaNya.

Dan lagi, gue mikir aja, keinginan gue yang terpenuhi, bukan berarti itu baik buat gue...(ihh, gue sok wise banget gini yaa -__-). Gue gak ngerti juga sih kenapa gue mikirnya kayak gitu, haha.. tapi gegara kejadian itu, gue jadi inget aja buat teruus ngehidupin hati... emang filter hati itu penting deh.. soalnya dia detektor nomor wahid .. kalo hati gue hidup, gue bise deteksi mana yang baek dan mana yang engga buat gue... kalo hati gue mati, ngeriiiii, setan manusia bisa gua puji-puji tanpa gue sadari kalo mereka itu sebenernya ngejerumusin gue! Na’udzubillaaaah...

Yaude pembaca, kita banyak-banyak do’a yaa supaya Allah jaga hati kita tetep hidup. Banyak ibadah, baca Qur’an n tafsirnya, ngaji, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong.... mudah-mudahan kita semua selamaaat dunia akhirat yaaa... aamiiiiin...

Trus nasib dua liter minuman soda itu akhirnya gimana? Pengen tauuu? Pengen tau banget apa pengen tau ajaaa...??  :D


Yaaa akhirnya, kira-kira sepekan sebelum lebaran, nyokap gue pura-pura nanya ke anak-anaknya, “kita gak minum yang beginian kaan??” dan tanpa nunggu jawaban dari yang ditanya, nyokap masukin botol-botol minuman itu ke plastik. Minuman itu jadi bingkisan lebaran untuk tukang bangunan yang lagi renovasi rumah gue dan ibu-ibu yang rutin ngerjain laundry di rumah gue. Sekian dan terima kasih.

Monday, May 27, 2013

Kenalkan, ini Jakarta-ku.....


Jam digital di dashboard menunjukkan pukul 11.47 malam. Mobil kami merayap perlahan di padatnya lalu lintas ibukota.



“Oh em ji, ini udah mau midnite ya dan masih macet beginiii...” Saya berseloroh.

Teman saya yang waktu itu menyetir sudah berkali-kali menguap. Saya menawarkan diri untuk menggantikannya pegang kemudi, ia menolak. Sebenarnya kami sengaja pulang agak larut untuk menghindari macet, tapi nyatanya antrean kendaraan ini belum terurai bahkan sampai hampir tengah malam.

Sungguh kemacetan menghabiskan banyak waktu, tenaga dan biaya. Sayangnya, fenomena ini masih menjadi salah satu wajah ibukota.

Berbicara tentang Jakarta tak pernah lepas dari segala kompleksitas permasalahan yang telah menggelayutinya selama bertahun-tahun: macet, banjir, kriminalitas, masalah lingkungan dan beberapa yang lainnya. Jakarta bukan kota dimana penduduknya bisa berleha-leha, roda kehidupannya selalu in rush.Mobilitas warganya dimulai saat masih gelap, baru mereda saat malam telah larut. Mungkin ini alasan bagi sebagian orang menilai Jakarta bukan kota yang ramah. Hidup begitu keras di Jakarta, kata mereka.

Well, apapun kondisinya, bagi sebagian orang, Jakarta tetaplah menjadi kota yang spesial. Bagaimana tidak spesial, dengan kemacetan yang telah menjadi jamak, banjir yang tak bosan menyambangi, polusi dan kepadatan yang luar biasa, warganya tetap enggan pindah :D. Tentu banyak alasan yang melatarbelakangi keengganan mereka untuk tinggal jauh dari Jakarta. Mungkin terlanjur cinta, atau bisa juga karena terpaksa, misalnya karena tugas kerja :P

Buat saya pribadi, Jakarta menjadi istimewa karena tiap fase hidup saya bergulir disana. Saya bukan orang Betawi. Darah saya Jawa. Namun saya lahir, menghabiskan masa kecil dan mengumpulkan receh demi receh di kota ini. Tanah kelahiran, apapun situasinya, tetap menjadi tempat yang paling indah, bukan?

Namun di dunia ini ada jenis manusia yang kurang empatinya, atau memang senang meledek di dunia maya, tanpa menyadari bahwa komentar yang dilontarkan absurd. Contohnya orang-orang yang memberi komentar tentang Jakarta seperti dibawah ini:

Thursday, January 3, 2013

Daddy, This is for You. From: Your Daughter

Dulu, ia menggandeng tangan kecilku, menjagaku dari rasa khawatir dan ketakutan terhadap dunia yang belum kukenal dan kupahami isinya...

Dulu, ia menggendongku tiap kali rasa takut dan sedih menggelayuti hati ini. Ia tersenyum dan mencandaiku agar rasa yang tidak enak itu pergi...

Dulu, ia yang menyupiri-ku ke sekolah, tiap kali hujan turun, agar aku tak terlambat, agar aku tak perlu berbecek kubangan jalan... walau jalan ke sekolahku tidak searah dengan jalan ke kantornya...

Dulu, ia telah mengajariku untuk berbagi, ketika ia meminta izin agar diperbolehkan memberi beberapa boneka milikku untuk anak seorang rekannya. “boleh diberi ya? Dia tidak punya mainan. Kasihan,” ujarnya. Aku, waktu itu masih di bangku TK, mengangguk, dan mempelajari hal baru: bahwa ada anak yang tidak punya mainan.

Ia memenuhi kebutuhan dan - bahkan - keinginanku.... sepeda yang kuidamkan, makanan kesukaan, mainan yang kuimpikan, pesta ulang tahun, majalah dan komik favorit.... pendidikan layak, fasilitas belajar memadai.... yang ia hadirkan dan hadiahkan untukku bukan tanpa pengorbanan, tapi dengan lelehan keringat dan kerasnya otak berpikir.

Ia sempurna?

Tidak....

Ia pernah sangat marah, saat aku tak hafal rumus-rumus matematika. Melihatnya begitu marah, hati seorang anak perempuan berumur 11 tahun bisa begitu hancur. Dengan air mata yang terus meleleh, kuhafal satu per satu rumus di dalam kamar yang terkunci.

Ia juga marah, saat malam tiba aku masih bermain di rumah teman dan melupakan belajar. Dengan sungkan menurutinya. Belajar setengah hati.

Saat ia lihat nilaiku di raport, selalu tertulis angka satuan di kolom “peringkat”, ia bahagia dan memujiku. Tak kupungkiri, aku pun senang. Tapi sebelah hatiku yang agak ternoda mencetus, “kan? itu yang engkau mau. Sudah kupenuhi.” Dan aku melenggang bermain tanpa beban, karena telah bisa memberi yang diinginkannya.

Waktu berputar, begitu cepatnya...

Beberapa belas tahun kemudian, aku menyadari berada di sebuah masa transisi, saat kami perlahan berganti peran.

Jika dulu ia yang menjagaku, kini aku yang berusaha menjaganya dari kekhawatiran - dengan berbagi nasihat yang bisa menenangkan hatinya.

Jika dulu ia menyupiri-ku, kini aku belajar menjadi pengendara yang handal, agar bisa menyupiri-nya tanpa ia harus merasa khawatir celaka saat duduk di sebelah kemudi.

Jika dulu ia mengajariku kebaikan, kini aku berusaha berbagi pengetahuan tentang beragam kebaikan lain yang tak ia pahami sebelumnya.

Jika dulu ia penuhi kebutuhan dan keinginanku, kini, perlahan aku bisa memenuhi yang ia butuhkan dan inginkan, walau belum semuanya.

Dan di masa transisi ini, begitu pekat rasa di hati, sebuah pemahaman yang tergali lebih dalam lagi, bahwa angka-angka yang tertoreh di raport dahulu, bukan untuk kesenangannya, sama sekali bukan untuknya – seperti yang dituduhkan sisi hati yang ternoda. Bahwa senyum dan kebahagiannya saat itu, adalah karena bayangan masa depan cerah putri kesayangannya yang hadir di matanya. Baru terungkap jelang aku dewasa, saat ia berkata bahwa ia ingin semua anaknya sukses, harus lebih baik dari dirinya. Bukan hanya materi, tapi juga ilmu dan agama.

Ketidaksempurnaannya dulu yang kini membuatku menapaki jalan dengan cukup ringan. Pun ketika bertemu rintangan, aku percaya bekalku bisa mencukupi. Ia ayahku, ayah yang menyayangiku dengan ketidaksempurnaannya – namun itulah yang menjadikan ia begitu lekat di hati.

Saturday, December 29, 2012

Uncountable Dreams


“Aku mau jadi dokter gigi....”

“Aku dokter anak dong...”

“Kalo aku mauuu.... jadi pilooot...”

“Aku suka bahasa Inggris, aku mau jadi pramugari... nanti bisa jalan-jalan ke luar negeri.”

Kalimat terakhir adalah ucapanku. Kututurkan saat seragam putih merah masih kukenakan hampir setiap hari.

Semua ucapan itu adalah mimpi kami, aku dan teman-temanku.

Banyak mimpiku yang terwujud. Karena itulah aku menimba ilmu di tempat yang aku namai sekolah “impian” atau kampus “impian”. Mendapatkan pekerjaan “impian” juga kah? Ya. Tapi bukan pramugari. Impianku tentang pekerjaan berubah saat aku SMU.

***

Betapa menyenangkan saat mimpi dapat kita wujudkan. Bahagia, bersyukur. Namun cukup sabarkah kita saat impian pupus? Kita tersandung-sandung mengejar mimpi, namun yang dikejar tak peduli, ia meninggalkan kita. Ini niscaya. Karena kesempurnaan hidup manusia itu terwujud saat mimpi-mimpinya tergilas, atau tersiram air hujan, lenyap. Kesempurnaan hadir karena adanya ketidaksempurnaan.

Maka menyesali kegagalan berarti menggugat sebuah kesempurnaan. Bisakah? Maaf, tidak bisa. Ia yang mencipta kesempurnaan tidak mengizinkan siapapun mengutak-atik rumusnya. Jadi kalau gagal? Ya, terima saja.

***

Ia Maha Adil.

Itu niscaya.

Ia tak pernah dzalim pada hamba-Nya.

Itu juga niscaya.

Ada tak terhitung mimpi sebagai pengganti yang pupus. Ya, benar, tak terhitung! Kita dapat melihatnya, merabanya, memilihnya, lalu kemudian meraihnya dengan satu bekal saja: tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Satu mimpi pupus, buat satu mimpi baru. Seribu mimpi pupus, harus ada seribu mimpi baru.


Yang tak boleh ada di jiwa kita adalah: kehilangan mimpi. 


"Masa depan bukanlah apa yang ada di dalam pikiran kita. Masa depan ada di genggaman Allah. 1 + 1 tidak selalu resultnya 2, bisa 3, 4, atau 1000. Selalu ada campur tangan Allah dalam setiap perhitungan kita mengenai masa depan. Namun, perhitungan yang tidak pernah salah dan berubah adalah: hal jazaul ihsani illal ihsan. Balasan kebaikan adalah kebaikan. Janji Allah ini adalah sebuah hukum mutlak. Jadi, lakukan saja kebaikan hari ini, maka di masa depan kebaikan pula yang akan kita terima."