Tuesday, July 21, 2015

Tentang GOJEK dan Beberapa Tips ber-GOJEK

Kamu tau Gojek? Belum? Itu lho, ojek yang pake seragam jaket dan helm hijau, dan belakangan ini sangat mudah ditemukan di ruas-ruas jalan di Jakarta (dan mungkin juga di beberapa kota lain..). Tukang ojek ini bisa dicari dan di-booking via aplikasi smartphone. Quite practical...

Nah, saya mau share pengalaman pertama menggunakan jasa Gojek... Ya, seperti biasa, saya kalo sharing ya info level newbie... Dari newbie untuk newbies, hehe... 

Pertamaa... Karena saya newbie, saya cari info dulu tentang Gojek. Mulai dari cara bookingnya, availability drivernya, biayanya, kendalanya, sampai tingkah polah drivernya... Dan saya pilih untuk cari dan intip info melalui akun twitter Gojek di @gojekindonesia. Wah, pas diintip, lini masanya kok penuh komplain? Hahahaha... Kalo begini saya jadi ketar-ketir dag-dig-dug serr.. :-| Rata-rata komplain yang ada tentang tidak tersedianya driver, kemudian Gojek credit yang tetiba berkurang jumlahnya, ada pula segelintir yang mengeluhkan attitude driver. Saya bersyukur tau info-info ini lebih awal, jadi saya bisa nyiapin plan A, B, C untuk perjalanan saya... Hehe...

Keduaaa... Cara pembayaran driver Gojek ada dua: credit dan cash. Credit itu semacam sistem prabayar. Kita transfer sejumlah uang dan itu jadi kredit (baca: tabungan) kita. Setiap kita pake jasa Gojek, maka kredit kita akan terpotong otomatis sesuai ongkos service yang telah digunakan. Kalau cash ya yu know laaah.. Langsung kasih uang ke drivernya. Kedua cara pembayaran ini muncul di aplikasi ketika proses booking. Kita bebas memilih. Kalo jarang pake Gojek, mendingan bayar cash deh.. Karena sistem Gojek creditnya kadang eror. Asik sih kalo credit kita tetiba bertambah, tapi kalo tetiba berkurang tanpa alasan (duileh...) ? Paitt paitttt...Hikss...
Etapi berhubung kemarin saya dikasih credit gratis sebesar 50k sama temen saya yang baik hati nan chubby, saya jadi merasa nothing to lose untuk pake Gojek credit... Hehe..

Ketigaaa... Ini terkait dengan komplain terbanyak, tersering dan ter-riuh yang dilontarkan para pengguna jasa Gojek: ga dapet driver. Lebih bikin spaneng lagi ketika kita dapet notif "cannot find driver" padahal di Gojek map terpampang dengan jelas jumlah Gojek driver yang bejibun dalam radius 100 m dari posisi kita.  Dan saya merasakan hal iniiii....! Bahkaaan gojek driver yang lagi free bukan hanya terpampang di map, tapi di depan mata sayaaa.. Dan mereka ga mau ambil orderan sayaa... Huaaahuaahuaa..

Jadi, posisi saya di FX Sudirman, dalam kondisi kenyang (ya, biar kamu tau aja, trus kamu iri sama saya :-p). Saat saya galau nunggu respon dari driver di pangkalan Gojek FX, pak Abdul (doi ini driver Gojek yang bakal anter temen saya ke Pasar Minggu, tapi delay karena temen saya masih nunggu saya dapet driver) bilang kalo tempat tujuan berpengaruh ke cepet/ enggaknya orderan kita direspon. Kalo pas lagi banyak order, driver milih-milih juga. Mereka enggan ke tempat-tempat macet kayak Cileduk atau Kalimalang (ini kan lokasi rumah gueee, hikss). Tapi kalo kita beruntung, bisa aja dapet driver ke tempat-tempat tersebut, sekalian drivernya jalan atau mau pulang (biasanya pas malam hari).

Saran dari pak Abdul, destinasinya diganti. Kayak saya kemudian mengganti destinasi saya, dari Kalimalang jadi Pondok Bambu. Alhamdulillah, sekitar 5 menit nunggu, finally orderan saya ditanggapi oleh seorang driver yang sedang melintas di Plaza Senayan. Saya memang nggak diantar sampai depan rumah, karena destinasinya cuma sampe depan komplek. But it's fine....

Khusus tentang hal satu ini, menurut saya wajar driver-nya picky. Mereka dapet bonus berdasarkan jumlah order, bukan jumlah km atau jam kerja. Jadi mereka coba bekerja efektif dan efisien dalam mengambil order. Selama bisa milih, ya mereka akan milih order.. Kita juga gitu kan kalo kerja..? Efisien dalam mengeluarkan tenaga, tapi efektif dalam pencapaian target, hehe...

Keempat.. Mengenai driver itu sendiri. Alhamdulillah saya dapet driver yang baik. Saking baiknya sampai komunikasinya berbuntut: sms nanya udah sahur atau belum, hihi... Tapi maaf ya bang Gojek, komunikasinya cukup perihal perGojekan aja, jadi ngga satu pun smsnya saya balas. Hehe...

Terakhiir... Selama masa promo cebanRamadhan, boleh lah kasih tip buat drivernya. Ceban itu murah bingits untuk harga ojek. Tambahan dua atau tiga ribu bisa bikin drivernya senang dan rejeki kita berkah (aamiin).

Jadi begitulah petualangan pertama saya di dunia perGojekan. Ada galaunya, ada senengnya. Yang perlu diinget, driver Gojek juga manusia, butuh hidup dan menghidupi. Jadi coba wise aja menanggapi segala kekurangan, nggak perlu komplain berbumbu caci maki ☺ selamat berGojek ☺


Monday, April 27, 2015

Ulasan Ringan Film "Guru Bangsa Tjokroaminoto"



Heyho…

Sudah nonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto? Belum? Better to watch it ASAP, karena jadwal tayangnya sudah mulai berkurang di bioskop-bioskop. Sayang lho kalau ngga nonton…

Hummm… Sebenarnya saya bukan tipe manusia yang doyan nonton di bioskop. Yaa, gimana yaaa, menurut saya siih, uang tiketnya lebih baik dialokasikan untuk keperluan lain. Kalau mau nonton film, mendingan streaming atau unduh, hehe… tapi untuk film-film berkualitas, terutama film Indonesia ♫ ♪ aku relaaakan puluhan ribu rupiaaahku ditukar dengan tikeet bioskoop ♪♫ *ndangdut*

Well, well…

Sampailah saya pada waktu dimana teman-teman di sekitar saya menjadikan film GBT buah bibir. Selain testimoni yang positif, petikan ucapan HOS Tjokroaminoto yang dalam dan terkenal itu: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” bikin saya kepo, tertarik dan segera menentukan jadwal nonton. Janjian sama ibu guru Nur dan bapak guru kembar, Rokhman dan Rokhim, fix nonton hari Kamis, tanggal 23 April kemarin.

Sekitar lima menit sebelum film dimulai, kami berempat sudah duduk manis di kursi studio. Nggak lama kemudian, film dimulai. Kami disajikan adegan serius, adegan lucu, dan bagian film yang disturbing (dikit sih…) yang bikin saya memilih untuk tutup mata. Ada pula bagian yang bikin kening berkerut dan hati bertanya-tanya, “tokoh itu siapa sih? Lokasinya dimana sih? Mau pergi naik kereta kemana sih?”. Dan bu guru Nur, si perempuan Aceh bertanya, “konco-konco itu artinya apa sih?” hehehe…

Nonton GBT itu harus super nyimak. Karena setiap dialog atau ucapan tokoh di film tersebut memberi petunjuk tentang alur kisah dan nama-nama tokoh atau nama tempat yang tidak dideskripsikan secara visual. Bagi penonton yang pengetahuan sejarah-nya biasa-biasa aja, kalau ada dialog yang terlewat ia dengar, maka akan cukup sulit untuk memahami kisah secara utuh. Contohnya saya, heuheuheu…

Bagi yang awam banget, film berdurasi dua setengah jam ini mungkin memang terasa monoton. Tapi mungkin begitulah hakikat (ceileh) film dengan genre biografi. Penonton yang ngga paham sejarah dan ngga punya minat dengan sejarah, akhirnya Cuma punya dua pilihan saat nonton: 1. Duduk bosan, dan 2. Ngobrol atau ketawa-ketiwi bareng rombongannya untuk mengusir kebosanan. Sayangnya, kami berempat satu studio dengan penonton awam yang tipe kedua, yang bikin suasana studio nggak nyaman dan membuyarkan konsentrasi kami. Plis guys, kalo kalian merasa ngga cucok dengan film yang ditonton, lebih baik langsung ke pintu EXIT atau bobok di kursi aja yaaaa…

Selesai nonton, lanjut acara makan bareng, dari jam 6 sore sampai jam setengah 9 malam. Kami makan gaya siput yah? Hehe… Maklum, nunggu pesanan lengkap aja butuh sekitar 15 menit, ditambah diskusi dan browsing-browsing tentang film yang baru aja ditonton. Buat orang seperti saya, yang masih lack of knowledge tentang sejarah, kegiatan pasca nonton yang seperti ini yang penting. Film itu “hanya” pancingan untuk menggali pengetahuan yang lebih banyak dari sumber-sumber lain. Misalnya gini nih, di film GBT, ada murid-murid H.O.S Tjokroaminoto yang dikisahkan tidak terlalu mendetail. Pasca nonton, akan sangat bermanfaat jika kisah mereka kita gali sendiri secara lebih dalam dan lebih mendetail, bisa dengan googling atau bertanya ke ahlinya. Buat nambah ilmu, jadi acara nontonnya bermanfaat.

Dari acara ngobrol-ngobrol sambil makan itu, terkuaklah penilaian tentang film GBT ini. Kami satu kata untuk kelebihannya: latar dan property yang benar-benar dikondisikan untuk sesuai dengan situasi awal tahun 1900an. Sangat baik sekali. Pemeran-pemeran tokoh di film tersebut juga berakting dengan baik. Wes, yang main kan sekelas Didi Petet, Christine Hakim, Sudjiwo Tedjo, Reza Rahadian. Termasuk orang-orang Belanda-nya, mantap aktingnya.

Kekurangan film ini, bagi kami berempat (ini subjektif banget ya), adalah alur cerita yang rumit. Ada bagian-bagian yang kami ngga ngerti. Menurut saya pribadi, konten film ini sangat padat. Sutradara dan penulisnya ingin menyampaikan momen-momen penting dan bersejarah yang dilalui oleh Tjokroaminoto, yang jumlahnya tidak sedikit. Terbatasnya durasi menjadikan momen-momen itu terkadang ditampilkan dengan sangat singkat. Ini yang sangat mungkin membuat penonton gagal paham dalam menangkap kisahnya. Jadi, alangkah baiknya bagi yang mau nonton film ini untuk membaca biografi H.O.S Tjokroaminoto terlebih dahulu sebelum masuk bioskop. Biografi yang singkat saja, misalnya dari Wikipedia, akan sangat membantu mencerna setiap bagian film ini.

Jadi…..

Terlepas dari kekurangannya, film Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah salah satu yang layak direkomendasikan untuk ditonton. Ini film dengan genre bagus: biografi, yang sarat dengan pengetahuan, nilai-nilai humanism, nasionalisme dan kearifan yang bersifat universal. Berapa banyak produser yang mau bikin film seperti ini? Rasanya ngga banyak. Nah, mumpung ada yang bikin, mari kita ramaikan bioskopnya, hehe… Kalau sebuah film laris kan biasanya banyak produser lain yang akan mengekor bikin film serupa…  Jadi, nanti akan banyak juga film-film berkualitas beredar… Kita nantikan film berkualitas lainnya ya… J