Monday, November 19, 2018

Resep Bolu Marmer


Marmer cake yang yuhuuu

Baking! Baking! Baking!

Aku suka baking. Ini kegiatan refreshment buat aku, terlepas dari apakah hasilnya menul-menul atau bantat, hihihi. 

Salah satu prinsip hidup yang kupegang adalah "work hard, play hard". Kerja keras harus diselingi dengan refreshment. Ini adalah upaya menghargai diri dan agar tetap waras dalam hidup, hahaha. Maka setelah setumpuk pekerjaan berhasil kuselesaikan, maka tak perlu menunda untuk baking. Uh yeaah! Let's execute beybih!

Then what are we going to bake??

A cake alias bolu. Aku suka bolu dan lagi kangen makan bolu yang moist berlemak-lemak. Jadi aku putuskan untuk membuat bolu marmer/ marmer cake menggunakan teknik butter-cake. Bolu yang dibuat dengan teknik butter-cake ini juga jadi kesukaan ibuku. 

Teknik butter-cake adalah cara membuat bolu yang diawali dengan mengocok mentega/margarin dengan gula. Aku suka teknik ini, karena tidak harus melelehkan mentega/margarin terlebih dahulu dan menunggunya menjadi agak dingin. Aku pun tak perlu banyak-banyak melakukan aduk balik. Aku hanya cukup mengaduk balik tepung terigu, tak ada margarin/mentega leleh yang harus diaduk. Two steps eliminated. Lebih praktis dan efisien, kan? Terutama saat waktunya cuci piring, hehehe.

Konon, dibandingkan dengan teknik sponge-cake dimana mentega/margarin dilelehkan terlebih dahulu sebelum dicampur ke dalam batter, teknik butter-cake menghasilkan bolu yang lebih padat namun tetap lembut.

Resep dasar yang kugunakan adalah milik ibu Fatmah Bahalwan, founder Natural Cooking Club (NCC) yang terkenal seantero dunia perbakingan di Indonesia, hehehe. Namun agak kuubah sedikit, sehingga menjadi resep dibawah ini:

Marmer Cake


Bahan:

  1. 200 gram margarin
  2. 50 gram mentega
  3. 5 kuning telur
  4. 2 butir telur utuh
  5. 200 gram gula pasir (terlalu manis buat aku. Bisa dikurangi menjadi 180-150 gram)
  6. 200 gram terigu
  7. Secukupnya cocoa powder/pasta coklat


Cara pembuatan:

  1. Kocok campuran margarin, mentega dan gula pasir hingga margarin berwarna pucat.
  2. Sambil terus dikocok, masukkan kuning telur dan telur satu per satu. Kocok hingga kental berjejak (sekitar 5 sd 10 menit tergantung mixer yang digunakan).
  3. Matikan mixer. Masukkan tepung terigu sambil diayak. Lakukan aduk balik.
  4. Setelah terigu tercampur rata dalam adonan, tuang ke dalam loyang (aku pakai baking pan). Sisakan adonan sekitar satu sendok sayur.
  5. Campurkan cocoa powder/pasta coklat ke dalam sisa adonan. Aduk rata.
  6. Tuang adonan coklat ke atas adonan yang sudah ada di loyang. Garis lempeng saja.
  7. Gunakan tusuk gigi untuk membuat motif marmer. Caranya? Adonan coklat di-spin alias diputar-putar kiri-kanan.
  8. Panggang. Aku pakai baking pan dan kupanggang dengan api kecil selama 30 s.d. 40 menit.
  9. Voila! Matang, menul dan lezaaat!
Walau tanpa tambahan baking powder atau baking soda, marmer cake ini tetap mengembang, mumbul cantik.


Selamat mencoba! Semoga saksezzz! ;)





Tuesday, December 5, 2017

Tips: Menumbuhkan Minat Baca Anak


"Anak saya malas sekali membaca. Bagaimana ya agar anak saya senang membaca?"


Sebuah pertanyaan yang banyak terlontar dari para ibu kekinian dan banyak juga yang sudah membahasnya dengan memaparkan tips-tips yang kece ^^

Hari ini pertanyaan tersebut mampir ke saya. Terganggu? Oo, tentu tidaak. Hal ini justru membuat hati berbunga-bunga. Bukan, bukan karena saya kegedean rasa alias GR telah dipercaya untuk memberikan pendapat, namun karena pertanyaan ini menunjukkan kepedulian orang tua terhadap kebutuhan esensial anaknya.

Baiklaaah, saya ingin berbagi pengalaman yang menurut saya bisa dijadikan jawaban atas pertanyaan ini.

Saya mencintai buku, senang melihat buku-buku berjajar rapi di rak. Saat menemukan buku obral, saya bisa kalap. Seperempat uang belanja bisa saya habiskan untuk membeli buku obral, hehehe. 

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia juga menyukai buku. Oo, ternyata tidak ada rumusnya seorang kutu buku pasti berjodoh dengan kutu buku. Alih-alih, suami saya seorang "kutu foto" alias pecinta fotografi dan tidak terlalu berminat untuk membaca ^^". Kalau buku tentang fotografi suka tidak? Sama sajaaa, tidak membuatnya tertarik, hihihi.

Walaupun demikian, memiliki istri yang doyan buku artinya harus menempati kamar yang penuh buku, sering berkunjung ke toko buku sekedar menemani si istri belanja, dihujani paket-paket buku minimal sebulan sekali dan saban kali mendapatkan pesan whatsapp dari istrinya berisi, "ayah, bubun beli buku, tolong transfer pembayarannya, ya." :D :D

Bulan demi bulan berlalu dengan buku, buku dan buku, mengantarkan saya dan suami pada satu titik kulminasi, yaitu saat saya berkata, "ayah, bubun mau jualan buku." Jreng! Mengapa titik kulminasi? karena itu artinya buku tidak akan pernah absen satu menit pun dari pikiran saya dan suami akan lebih sering dan lebih banyak dikelilingi buku.

Setelah berdiskusi sampai kemudian suami mengeluarkan izinnya, dimulailah aktivitas berjualan buku itu, termasuk segala rutinitas yang sudah menjadi default alias sepaket dari sananya dengan aktivitas tersebut. Belanja buku, salah satunya.

Masa-masa awal berbelanja buku, sambil menunggu saya memilih buku, suami lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengunyah camilan atau bermain game online di ponselnya. 

Waktu bergulir. Pada moment belanja terakhir ternyata suami memulai aktivitas baru saat menunggui saya berbelanja. Ia membaca komik yang diambil dari tumpukan yang dijual. Yang lebih mengejutkan, saat saya ajak ke kasir, dia bilang, "tunggu, lima lembar lagi, nih." :D

Tidak sampai disitu saja, setibanya di rumah, menjelang keberangkatannya ke tempat kerja, ia membaca buku kumpulan dongeng klasik karya HC Andersen. Saat harus berangkat, ia bertanya, "buku ini dijual nggak?" Saya menggeleng. Ia melanjutkan, "Ayah bawa ya, buat dibaca di kereta." Aiiih, saya terharu mendengarnya, hahaha.

Dengan pengalaman ini, ada sebuah teori umum yang terbukti, yaitu seseorang tumbuh mengikuti lingkungannya. Dalam hadits Bukhari juga disebutkan bahwa jika kita bergaul dengan pandai besi, bisa jadi kita terciprat api-nya, sedangkan jika bergaul dengan penjual parfum, kita akan terpapar wanginya. Jika bergaul dengan bandar buku, kita akan ikut menyukai buku, hehehe. (eh, soal penjual buku itu sih tambahan dari saya, bukan bagian dari hadits ya, hihihi)

Dari seluruh buku parenting yang sudah saya baca, semua penulisnya menyebutkan hal yang sama, bahwa seorang anak tumbuh selaras dengan teladan yang ditunjukkan oleh orang tuanya. Jika orang tuanya senang membaca, anak pun akan senang membaca tanpa perlu dipaksa.

Jika disimpulkan dari pengalaman saya maka menumbuhkan minat baca anak bisa dilakukan dengan:

1. Memperbanyak koleksi buku. Kelilingi anak-anak dengan buku berkualitas yang sesuai dengan usia dan minat mereka.

2. Memperbanyak "pergaulan" dengan buku. Salah satu langkah yang bisa diterapkan adalah dengan mengajak anak ke perpustakaan secara berkala. Ada banyak sekali perpustakaan ramah anak yang tersebar di Jabodetabek. Yang terbaru adalah gedung perpustakaan nasional di Jalan Medan Merdeka yang diresmikan pada akhir tahun 2017 ini.

3. Membuat diri kita, sebagai orang tua, mencintai kegiatan membaca. Ceritakan kepada anak betapa asyiknya membaca. Dengan membaca, banyak hal menakjubkan yang bisa kita ketahui. Dengan membaca, kita akan merasa terhibur, dan masih banyak lagi.

Tentu masih banyak tips lain yang bisa dilakukan. Namun secara umum, ketiga poin tadi cukup mumpuni jika dilakukan secara konsisten. Yuk, kita praktekkan. Mumpung anak-anak masih pada tahap golden-age dan masih sangat mungkin mengarahkan mereka untuk mencintai membaca :)

***
Join grup facebook "Hakim Bookshop", yuk. Bisa lihat-lihat buku bagus, tanya-tanya isinya dan yang pasti harga ramah kantong, :D
link-nya --> Hakim Bookshop

Sunday, October 22, 2017

My First Pregnancy (Awal Mula Lubna Dihadirkan Dalam Kehidupan Kami)



Delapan bulan yang lalu, muncul dua garis ini pada test pack.

Tidak seperti pasangan lain yang cepat-cepat mengunggah di medsos (ya, tentu saja karena kehamilan pertama pasti exciting luar biasa ya), saya dan suami menahan diri (saya lebih tepatnya 😊).

***

Dua minggu setelah pernikahan kami terjadi percakapan berikut,

"Yang, aku kok pusing ngga ilang-ilang ya? Biasanya dibawa bobo-an sehari langsung ilang," saya mengadu pada suami.

"Ya dah, coba istirahat aja ya," jawaban standar suami.

Keesokannya,

"Yang, aku eneg nih dan agak diare," saya mengadu lagi.

"Minum obat diare ya, makan yang teratur," jawaban protokoler suami.

Keesokannya lagi,

"Yang, ini aku sakit apaan ya? Apa aku hamil? Kalau ngga hamil aku sakit apa dong? Aneh banget rasanya. Takutnya muntaber (memang masih agak diare sih walau gak muntah, hohoho)," lagi-lagi saya mengadu dan lagi-lagi direspon dengan jawaban standar, normatif, protokoler oleh suami.

Berhubung seumur hidup baru kali itu saya merasakan kondisi yang aneh, saya memutuskan untuk mencurigai diri saya hamil. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (keguguran karena kehamilan yang tidak diketahui, misalnya) saya tidak menunda pergi ke apotek untuk membeli dua buah test pack.

Hari itu juga saya tes urin. Saya yakin akan muncul dua garis pada test pack yang digunakan. Benarlah. Selang sekian puluh detik muncul garis merah samar sejajar dengan garis merah yang lebih pekat. I'm pregnant!

Orang pertama yang saya kabari tentu suami. Dan responnyaa... Sangsi 😑 (ia punya alasan merespon demikian).

"Tapi garisnya samar, sayang," kata suami.

"Sudah aku googling, samar atau pekat artinya sama yang, positif hamil," saya bersikeras.

Saya mengabari kedua orang tua saya, sedangkan suami malah pergi ke kakak perempuannya untuk mengkonfirmasi hasil tes pack 😄

Setelah mendapat jawaban dari kakaknya bahwa saya memang positif hamil, suami baru merasa yakin 😅 mengalirlah air mata syukur-nya (katanya sih begitu, saya ngga lihat, hehe).

***

Hari ini perut saya sudah endut sekali. Calon bayi di dalamnya juga begitu aktif. Saat sujud dan merasakan ia bergerak lincah, saya tersenyum-senyum sendiri. Semoga sehat selalu ya, nak. Enam atau delapan minggu lagi kita akan sama-sama berjuang 😊😊

Hemm, dan, baru hari ini saya berani mengunggah hasil test pack delapan bulan lalu 😄

Note: tulisan ini dibuat sekira awal Mei 2017 saat Lubna masih dalam kandungan. Si shalihah itu kini sudah 4 bulan usianya ;)

Sunday, June 4, 2017

Sepi itu Merdeka

Saat sepi bertamu,
bukan artinya keluh kesah akan bertandang pula
Saat sepi bertamu,
bukan artinya sedih akan pula hadir
Saat sepi bertamu,
bukan artinya rasa tak berarti akan menguntitnya

Sepi itu
memberi kesempatan dirimu melakukan apa saja yang diinginkannya
Sepi itu
memberi kesempatan dirimu memperhatikan apa yang dibutuhkannya dengan kadar seksama yang lebih dalam dari waktu biasa
Sepi itu
memberi kesempatan dirimu bereksplorasi
Sepi itu
membujuk dan merayumu untuk mencipta, berkreasi
Sepi itu
dirimu merdeka



Petang 9 Ramadhan 1438 H

Thursday, May 4, 2017

Resep Donat Empuk Killer Soft Bread – Beserta Cara dan Tips

Haloooo... Assalaamu alaikum everybodehh...

Setelah 673.846 abad berlalu, akhirnyaa saya buka blogger dot kom lagi, hahaha...

Apa kabaar dear readers? Semoga yang rajin baca blog saya selalu hepi yaa. Alhamdulillah, saat ini saya lagi dititipi bayi mungil di perut yang usianya memasuki pekan ke-32. Soo, karena perut semakin menggendut, sudah harus dibatasi mobilitas dan aktivitasnya (tapi jempol masih bisa lincah, kok). Doakan yaaa...

Kali ini saya mau posting yang sedaaapp, salah satu camilan favorit saya, yaituuu DONAT (my mother tongue named it) atau doughnut (English ~ if you want to say it in more classic way) aka donut (English ~ if you want to say it in a little bit more "kekinian" way).

Lidah saya lebih suka makanan yang ori, klasik, minim improvisasi. Jadi donat yang saya suka juga tipe-tipe donat polos atau donat cemong gula tepung atau maksimalnya donat tabur meses or keju parut. Donat dengan glaze saya lahap juga, hanya kalau ada yang beliin, hehe. Glazing is too sweet for me and sometimes its taste is too dominant that swaps away the texture and taste of the dough itself.

Baiklah, kita mulai dari resep yaa. Cuss!
Killer soft bread nama resepnya. Ew, ngeri-ngeri sedap. Konon resep ini lagi kekinian. Di sebuah grup masak-memasak yang cukup besar, para anggotanya saling berlomba mempraktekkan resep ini lalu mengunggah foto hasil karya mereka. Ah, nampak aduhaaii menggodaa. Ck, benar-benar memotivasi saya untuk ikut dalam barisan jamaah Killer Soft Bread ini.

Okey, jadi inilah resepnya:

KILLER SOFT BREAD
by Victoria Bakes

Bahan :
260 gr tepung terigu protein tinggi
30 gr gula pasir
3 gr ragi instan (sekitar 1 sdt)
1 butir telur yang ditambah susu cair hingga berat 160-180 gr
30 gr butter / margarin
sejumput garam

Cara Membuat :
1. Campur secara merata: tepung terigu, gula pasir, ragi instan dan garam.
2. Tuang campuran telur dan susu cair. Aduk/uleni sampai rata dan sedikit kalis.
3.  Tambahkan butter/margarin. Uleni hingga adonan kalis dan tidak robek jika di-stretch.
4.  Diamkan adonan selama kurang lebih 45 - 60 menit atau sampai mengembang 2 x lipat.
5.  Kempeskan adonan. Bagi adonan sama rata, bentuk menjadi donat.
6.  Diamkan kembali sampai mengembang (saya diamkan sekitar 30 menit).
7.  Panaskan minyak di wajan dengan api besar/sedang. Saat ingin memasukkan donat, gunakan api sedang cenderung kecil.
8.  Goreng adonan donat hingga menguning. Cukup dibalik sekali ya, jangan mainan minyak, hehe.
9.  Angkat donat yang sudah matang. Agar ngga berminyak, letakkan donat matang pada wadah yang dialasi tisu. Dinginkan.
10.  Hias donat dengan cemongan gula halus, meses, keju parut, sprinkle, glazing or anything! Langsung disantap tanpa tambahan apapun  juga enak, kok.

Penampakan :

1. My first doughnuts are tanned doughnuts.



Ini donat pertama saya yang kebanyakan terigu, hihihi. Rasa enak sih, tapi agak alot dengan tekstur berserat padat. Padahal saya kepingin tekstur donat yang lembut bolong-bolong. 

Catatan untuk percobaan pertama ini:

-  Jangan nambah-nambahin takaran deh. Sesuain aja dengan resep. Saya nambahin takaran terigu karena merasa adonan terlalu lengket. Padahal kalau sudah diuleni akan kalis  elastis dengan sendirinya, kok.

-  Jangan pakai api sedang cenderung besar  atau (apalagi) api besar untuk menggoreng donat. Pada percobaan pertama ini saya disesatkan oleh sebuah resep daring yang bilang gorengnya pakai api sedang cenderung besar, hiksss. Jadilah donatnya mencoklat beberapa detik setelah dimasukkan ke minyak panas. Woles aja nggorengnya. Pakai api sedang cenderung kecil, ya.

-  Saat digoreng adonan donat akan membengkak (walau sebelumnya udah diproofing). Perhatiin aja space wajan yaa, soalnya saya sempat kewalahan dengan wajan yang tetiba full donat mengembang. Mirip-mirip ngegoreng kerupuk gitu deh.

2. My second trial


Tampang dan teksturnya jauh lebih oke dari percobaan pertama. Lebih empuk (bahkan sampai keesokan harinya) dengan tekstur yang lebih ber-peri kedonatan.

Akan lebih cantik lagi kalau dicetak. Kalau ngga punya cetakan donat gimana dong? Sempat intip cara bikin donat di youtube dimana adonan digilas dulu kemudian dicetak dengan tepi mangkok (atau bisa juga pakai tepi mug atau apapun yang bentuknya bulat kali ya). Saya sih belum pernah coba metode cetak-mencetak ini, tapi kenapa ngga teman-teman readers mencoba sebelum saya, ye kan?

Jadiii, para pembaca budimaan, begitulah ulasan cara membuat donat dengan resep Killer Soft Bread. Donat ituu, selain enak ternyata bikinnya mudah dan cepat dibandingkan dengan bikin roti, hahaha. Saya sangat amazed dengan proses menggoreng yang begitu cepat, hoho. Selamat mencoba yaa... ^^

Sunday, July 3, 2016

Teruntuk Para Guru dan Orang Tua...


Apa kabarmu ibu guru Nurmayani? Betapa melegakan mengetahui engkau telah bebas dari bui. Mungkin sulit menyembuhkan rasa sakit yang terlanjur muncul lantaran tindakan tidak bijaksana oknum orang tua siswa itu. Namun seiring berjalannya waktu, semoga engkau mampu mengikhlaskan semua hal yang menyakitimu dan membiarkan Allah SWT memainkan hitungan-Nya.

Apa kabarmu ibu guru Jamilah? Hilang kasusmu ditelan riuh berita. Namun ada harap agar keadilan berpihak padamu. Semoga suatu hari nanti wali muridmu paham niat baik dibalik tindakanmu (yang terpaksa) mencukur rambut anak mereka.

Apa kabarmu bapak guru Samhudi? Kasusmu masih terus bergulir diiringi ramai dukungan rekan sejawat dan warga dunia maya. Walaupun engkau masih harus menjalani agenda persidangan, semoga Ramadhan dan Lebaran-mu bersama keluarga tetap hangat dan penuh berkah.

Apa kabar bapak dan ibu guru yang terus mengabdi walau dalam bayang-bayang ancaman delik pidana? Semoga Allah swt memuliakan bapak dan ibu guru semua atas dedikasi kepada generasi. Bapak dan ibu, percayalah, apa yang telah kalian berikan kelak menjadi amal yang tak terputus pahalanya walau jasad telah terkubur dalam liat tanah.

                                 ***

Sekolah, semua orang tahu (walau belum tentu paham), adalah tempat dimana proses pendidikan dilaksanakan. Artinya, segala kebijakan yang dikeluarkan oleh sekolah semata-mata bertujuan untuk MENDIDIK para siswa. Siswa itu sendiri disebut sebagai peserta DIDIK. Artinya, ia BERSEDIA DIDIDIK di sekolah atas persetujuan orang tua/ wali-nya.

Dalam proses pendidikan, sistem reward dan punishment tidak mungkin dikesampingkan. Mungkin sudah menjadi tabiat bahwa si "reward" jarang digugat sedangkan si "punishment" cenderung ramai dikomplain. Maka mencuatlah rangkaian kasus pemejahijauan para pendidik. Diseretlah ibu guru Nurmayani ke ruang pengadilan oleh wali peserta didiknya sendiri. Tersibaklah hijab penutup aurat ibu guru Jamila dengan helai rambutnya rontok digunting paksa oleh tangan wali peserta didiknya sendiri. Tergugu bapak guru Samhudi dibawah ancaman delik pidana oleh tuntutan wali peserta didiknya sendiri. Semuanya terjadi seakan kata "musyarawah" dan "kekeluargaan" tidak pernah dikenalkan dan diajarkan kepada mereka yang mendera bapak dan ibu guru dengan tuntutan hukum. 

Andai siswa ibu Nurmayani tidak bermain-main air sisa pel, atau siswa ibu Jamilah sigap mencukur rambut mereka saat pertama teguran diterima, atau siswa bapak Samhudi mengikuti kegiatan sholat dhuha -bukan malah merokok di pinggir sungai, punishment tidak akan menghampiri mereka.

Bersekolah adalah bagian dari hidup. Dalam proses pendidikan di sekolah -sama seperti hidup itu sendiri - berlaku hukum kausalitas. Ada resiko konsekuensi dalam tiap langkah yang menyimpang. Itulah proses pembelajaran. Jika seorang anak didik mengambil langkah yang salah, disitu ia belajar menjalani konsekuensi dengan gagah berani, tentunya didampingi orang tua yang bijaksana dan guru yang memahami hakikat proses pendidikan.



Sekolah dengan seluruh komponen di dalamnya adalah sebuah miniatur kehidupan. Ada yang mengambil peran protagonis, ada pula yang memilih peran antagonis. Namun seorang guru, betapapun garang dan "antagonis"-nya ia, hati kecilnya selalu mengharapkan masa depan yang cemerlang bagi anak-anak didiknya.

Jika sebuah cubitan bisa menyeret seorang guru ke kursi persidangan, kelak mampukah orang tua menyeret kehidupan yang mencubit atau bahkan membabakbelurkan anaknya? Karena kehidupan bisa mencubit lebih sakit dibandingkan dengan cubitan tangan seorang guru.

Duhai para pendidik di Indonesia, yang honor sebagian darimu jauh dibawah kelayakan, tetaplah mendidik sepenuh hati. Gusti Allah mboten sare...


Saturday, April 30, 2016

Dear Smokers...

Dear Smokers,
Apakah kamu menyadari bahwa asap rokok yang kau hisap itu bisa terbawa angin sampai beberapa meter dari tempatmu berada? Aku yang berdiri sejauh dua setengah meter darimu bisa mencium bau asap rokokmu.
Kamu tahu apa yang sedang kulakukan saat menghisap asap rokokmu? Saat itu aku sedang berikhtiar untuk menyehatkan tubuhku. Aku sedang berolahraga.
Betapa rasanya sia-sia berpeluh mengusir racun dari dalam tubuhku saat racun lain masuk melalui saluran pernapasanku tanpa bisa kuhindari.
Pagi hari di akhir pekan yang senggang, bukankah lebih baik kamu ikut berolahraga? Ikut menyehatkan jiwa dan raga? Ikut menjaga segarnya udara pagi yang menyehatkan?
Mengapa kamu memilih untuk menghisap dan (bahkan) berbagi racun dengan orang lain?

Dear smokers,
Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa rokok yang kau hisap saat mengendarai motor, terbawa angin beberapa meter ke belakang.
Saat itu posisiku persis di belakangmu. Mengendarai motor juga. Walau telah kulindungi sebagian wajahku dengan masker, asap rokokmu tetap bisa menyeruak masuk melalui celah-celah kecil yang ada. Aku mencium baunya!
Dengan kualitas udara ibukota sudah begitu beracun, mengapa kau tambah racun lain ke dalamnya? Udara ini diciptakan bukan untukmu seorang.

Dear smokers,
Mengapa teguran yang datang kepadamu seringkali kau tanggapi dengan rasa gusar?
Salahkah aku yang ingin menghirup udara segar?
Salahkah aku yang ingin hidup sehat?
Apa salahku sehingga kamu harus berbagi racun padaku?

Katamu, "semua orang akan mati. Yang merokok akan mati. Yang tidak merokok pun akan mati.
Yang merokok bisa sakit. Yang tidak merokok pun bisa sakit."

Kataku, "berhentilah makan hari ini juga. Karena yang tidak makan akan mati, yang makan pun akan mati."

Monday, January 18, 2016

Resensi: Hidup Ini Keras, Maka Gebuklah!

Menemukan buku ini bukan dengan sengaja. Tidak juga dengan ngotot mencari-cari dari satu toko buku ke toko buku yang lain. Menemukan buku ini seperti bertemu dengan jodoh saja. Tau-tau ketemu, tertarik, lalu 'jadian' (di kasir).

Perjumpaan dengan buku ini diawali oleh rasa tidak sabar menunggu keluarga belanja batik di toko-toko sepanjang jalan Malioboro. Panas, sumpek, haus. Aku memutuskan kembali ke mobil duluan disaat keluarga masih memilih batik yang ingin dibeli. Posisiku saat itu di seberang pasar Beringharjo, sedangkan mobil diparkir di halaman Inna Garuda Hotel. Itu artinya, aku sedang berada di salah satu ujung jalan Malioboro, sedangkan mobil ada di ujung yang lain. Lumayan jaraknya sekitar 1 km.

Aku berjalan seorang diri ke arah mall Malioboro. Aku mampir, jajan roti dulu di mall. Selesai jajan, aku lanjut berjalan kaki (penting ya untuk dijelasin??). Rupanya persis di sebelah mall ada bazaar buku dari salah satu toko buku ternama di Indonesia. Boleh lah mampir sebentar.

Area bazaarnya lumayan luas. Jadi cukup lama juga menghabiskan waktu berkeliling di area itu sampai aku temukan buku yang ditulis oleh om Prie ini.

Yang menarik perhatianku sedari awal, tentu nama om Prie yang twit-twitnya aku suka. Baru kemudian judulnya yang unik yang membuat rasa tertarik semakin mengental. Dan yang membabat habis rasa ragu untuk membeli buku ini adalah diskonnya yang mencapai 75%, hahaha. Aku cukup mengeluarkan kocek Rp. 25.000 untuk buku setebal kamus ini, hihi.

Aku baru sempat melahap isi buku ini ketika sudah kembali lagi ke Jakarta. Itu sekitar sepekan setelah 'jadian' (sekali lagi, di kasir).

Awalnya aku pikir ini buku motivasi non-fiksi. Ternyata ini kompilasi serial Ipung (yang setelah kubaca, memotivasi juga sih, tapi lewat kisah fiksi). Nama 'Ipung' itu sendiri sudah pernah kudengar sebelumnya. Kalau tidak salah pernah dijadikan serial tv juga. Tapi sepertinya itu jaman dimana aku lebih suka nonton Sailor Moon atau Candy-Candy, hihi... Jadi aku nggak tau kisah Ipung itu seperti apa.

Bagian awal novel ini, secara tidak langsung, mendeskripsikan Ipung yang jelek, miskin, anak kampung, hidup lagi. Syukur otaknya cerdas, jadi masih ada gunanya lah dia hidup, hehe. Sementara itu, ada seorang cewek barbie, teman sekelas Ipung, yang super cantik, super kaya, super wangi, dan super segalanya deh (tapi bukan Superman :p). Namanya Paulin (penasaran kenapa Om Prie ngasih nama ini.... Nama yang nggak biasa). Daan, Paulin naksir sama Ipung. Anak tajir naksir anak miskin. Si cantik naksir si buruk rupa. Kok tipikal FTV banget yaaa?

Tapi setelah membaca seperempat buku, ternyata kualitas ceritanya jauh diatas kualitas cerita FTV. Apa yang membuatnya berbeda? Dialog-dialog di buku ini cerdas. Rangkaian kalimat yang digunakan dalam berkisah pun cerdas. Tidak monoton, tidak picisan, tidak membosankan, seringkali pula memberi kejutan. Kalau di FTV, ketika si miskin harus berkonfrontasi dengan si kaya, ia bersikap minder, marah, judes. Tidak dengan Ipung. Ia santai, tapi ucapan-ucapannya menukik, menghujam lawan bicaranya. Diksinya luar biasa. Sikapnya seringkali sulit ditebak.

Hampir sebagian besar kata-kata di buku ini mengesankan. Kata-kata itu memiliki ruh. Ruh ini yang mampu mempermainkan perasaan, membangkitkan semangat, membelokkan pola pikir pembaca, membuat tersenyum atau decak kagum. Rangkaian kata seperti itu sulit didapatkan pada dialog-dialog FTV atau serial-serial remaja yang dijuluki 'teenlite'.

Salah satu contoh ucapan Ipung yang tak terduga misalnya ketika ia berusaha bisa masuk ke bandara untuk melepas Paulin yang akan pergi ke Singapura. Pembaca dibawa pada suasana genting. Ipung dengan sigap mendesak sekuriti bandara. Ia bilang, "Nama saya Ipung, mas. Kalau anda bisa membantu saya, anda akan jadi saudara saya sampai mati!". Lebay? Iya. Apa sih kebanggan jadi saudara Ipung sampai mati jika hanya melihat penampilannya? Ipung seakan-akan bercanda, tapi sebenarnya itu ucapan yang bukan tanpa maksud. Dengan ucapan itulah ia akhirnya bisa mencegah hati Paulin patah dengan menampakkan dirinya di bandara.

Contoh lain lagi, ketika teman-temannya yang tajir, Gredo dan Marjikun, iri padanya dan mencoba menjebaknya dan membuatnya malu, Ipung membalas dengan kata-kata yang membuat skor menjadi satu-satu. Begini dia bilang, "aneh kalau kemiskinan saya harus dibuktikan. Dari dulu saya ke sekolah sudah naik sepeda. Ketika dulu sepeda saya dirusak Gredo, dan barangkali Marjikun juga ikut merusaknya, saya menangis. Pak Bakri tahu tangis saya. Itu sepeda saya satu-satunya. Dan menyesal saya gagal melawan kemarahan. Maka saya lawan Gredo. Dia naik mobil, tapi dengan orang bersepeda saja iri! Begitu juga Marjikun. Wajah dia dan wajah saya sama-sama tidak cakepnya. Tapi dia iri juga!"

Menurut saya kalimat-kalimat seperti itu lahir dari sebuah kecerdasan dan kematangan cara berpikir. Bukan kalimat-kalimat biasa yang hambar seperti dalam sinetron atau FTV. Ini penuh kualitas. Dan ada banyak lagi kalimat-kalimat berkualitas lainnya yang kadang diracik bersama dengan humor. Tidak melulu serius atau berat. Berbobot namun tetap menghibur.

Satu saja kekurangan buku ini: salah ketiknya banyak sekali untuk sebuah buku yang ditulis oleh seorang Prie G.S. Bahkan kadang ada paragraf yang salah letak, atau terulang di bagian yang berbeda. Jadi saat sedang membaca bisa tiba-tiba saja melintas di pikiran, "kayaknya ini paragraf udah dibaca tadi." Hihihi.

Kesimpulannya, buku ini layak dimiliki. Kontennya tidak mengecewakan. Ia menginspirasi, menularkan semangat dan mencerdaskan. Pada laman google play dan goodreads.com, rating buku ini diatas 4. Jadi, menurut saya, ngga ada alasan untuk ngga coba membacanya.

Tuesday, January 5, 2016

Kisah Pemberkasan Pengajuan UMP: Bersandarlah Pada Allah, Bukan Bersandar di Bahumu.


Aku duduk di kursi yang tersedia di samping peron jalur 5 stasiun Tugu, Jogja. Kedua tanganku mendekap tas biru tua —satu-satunya tas yang kubawa. Jika tepat waktu, kereta yang kutumpangi akan tiba sekitar 15 menit lagi.

***

"Dek, pulang sekarang! Ada banyak berkas yang harus diurus!" 

Begitu salah satu isi pesan dari rekan mengajarku yang kuterima kemarin lusa. Bukan hanya satu orang  yang menyuruhku segera kembali ke Jakarta, tapi ada beberapa, yang semuanya merupakan tenaga honorer di sekolah.

Kabar tentang pemberkasan itu aku dapat tanggal 28 Desember. Pemberkasan yang dimaksudkan untuk mendapatkan honor UMP bagi para tenaga honorer di sekolah-sekolah di DKI Jakarta mensyaratkan diantaranya surat keterangan sehat dan bebas narkoba, serta SKCK dari kepolisian. Tiga berkas ini yang pengurusannya dianggap sulit dan butuh waktu. Sementara itu sekolah meminta berkas selesai tanggal 30 Desember.

Awalnya aku enggan pulang. Aku masih menikmati liburan bersama keluarga yang sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya. Dan waktu dua hari untuk menyelesaikan sekian banyak berkas menurutku tidak manusiawi. Rasanya seperti kacung saja.

"Kalau ngga ikut pemberkasan ngga dapet honor, dek!" Tulis teman yang sudah kuanggap kakakku di WhatsApp.

"Ya udah, aku out aja dari sekolah." Balasku santai.

"Edan! Cepetan pulang!"

Andai teman-teman berhenti membujukku kembali ke Jakarta, niscaya aku akan tetap berada di Jogja sampai awal tahun baru. Namun mereka terus memaksa dengan mengajukan beragam rasionalisasi lewat telepon dan pesan.

Baiklah. Aku mengalah. Aku mulai memantau ketersediaan tiket kereta secara daring. Awalnya, tidak ada tiket tersisa. Aku berharap ada yang melakukan pembatalan pembelian tiket. Aku hanya butuh SATU tiket saja. Cukup satu. Dan... setelah menanti sekitar satu jam... Yak! I got one!

***

Keretaku yang bertolak dari Surabaya datang pukul 22.05 —lima menit lebih lama dibandingkan jadwal seharusnya. Aku sudah menunggu di peron jalur 5, berdiri pada posisi dimana kuperkirakan gerbong satu berhenti. Cahaya lampu lokomotif menyeruak ke dalam bangunan stasiun utama Jogja ini. Rangkaian kereta berjalan perlahan memasuki stasiun. Oops! Gerbong satu melewatiku. Aku melangkah cepat membuntutinya. 

Ada cukup banyak penumpang yang turun. Aku menanti di samping pintu gerbong dengan sabar sampai tak ada lagi orang yang turun, baru kemudian aku memasuki gerbong dan mencari nomor kursiku.

Ah, syukurlah, yang duduk di sebelahku seorang perempuan juga. Niatku untuk tidur dengan nyaman di kereta sepertinya bisa direalisasikan.

Kereta berhenti sekitar sepuluh menit. Mbak yang disebelahku sudah terlelap lagi. Ia naik kereta dari Surabaya. Aku masih mencari posisi nyaman untuk tidur dengan tas yang masih kudekap.

Peluit berbunyi, kereta bergerak perlahan. Aku belum bisa memejamkan mata. Otakku masih berputar memikirkan cara paling efektif dan efisien agar bisa mendapatkan berkas-berkas yang kubutuhkan dalam waktu satu hari dimulai dari esok pagi. 

Jadwal tiba kereta di stasiun Jatinegara pukul 5.16. Berdasarkan pengalaman, keterlambatan kereta paling pahit sampai saat ini adalah satu jam. Masih cukup waktu untuk pulang dulu ke rumah dan mengambil berkas persyaratan pembuatan SKCK apabila kereta terlambat tiba. Rencanaku, pukul 8 aku sudah berada di POLRES Jakarta Timur untuk menyerahkan berkas. Sebelum ke POLRES, mampir sebentar ke rumah sakit untuk mengambil nomor antrian periksa kesehatan dan tes urine.

Aku tarik selimut yang telah disediakan untuk penumpang. Dingin betul gerbong ini. Beberapa saat lamanya mataku masih terbuka. Tanganku menggenggam tab. Aku membuka situs ini dan itu sampai kemudian kantuk mendatangiku. Aku terlelap diiringi suara rangkaian gerbong yang melintasi rel dan dua orang laki-laki bercakap-cakap di sebelah kananku.

Sepanjang perjalanan aku sukses tidur nyenyak. Hanya saja, sempat terbangun beberapa kali ketika petugas berbicara melalui pengeras suara, menginformasikan stasiun yang akan segera disinggahi. Namun aku bisa kembali tidur dengan mudah tak lama setelah kereta beranjak meninggalkan stasiun-stasiun tersebut.

***

Tiga puluh Desember menjelang pukul lima pagi kereta berhenti agak lama di stasiun Cikampek. Aku mengambil wudhu, kemudian shalat subuh di kursiku.

Kereta beranjak. Namun kemudian berhenti lamaaaa sekali di stasiun Karawang. Petugas mengumumkan bahwa kereta menunggu antrean. Sampai langit mulai kelihatan warnanya, kereta belum juga beranjak.

Pukul tujuh sudah. Aku mulai cemas. Jika tak tepat waktu, rencanaku buyar secara otomatis. Aku kembali memutar otak merancang plan B.

Kereta tak juga beranjak. Tak terhitung berapa kali aku menghela nafas, meredakan rasa cemas. Aku sudah melangkah cukup jauh, aku tak ingin gagal.

Ya Allah, jika ini rejekiku, akan Kau mudahkan jalannya. Jika ini bukan rejekiku, maka akan Kau bukakan rejeki dari pintu yang lain.

Aku berujar dalam hati, mengobati cemasku.

Ya Allah, segala sesuatunya baik. Apapun yang telah, sedang dan akan terjadi padaku adalah yang terbaik. Bukan pemberian dari manusia, melainkan pemberian dari Engkau. Artinya, bukan pemberian yang biasa tanpa makna.

Aku telah berusaha, bahkan mengalahkan ego-ku untuk meneruskan liburan, menarik uang tabunganku, mengorbankan waktuku. Aku yakin Allah akan menggantinya dengan yang setara atau bahkan lebih banyak.

Kereta beranjak perlahan. Ia bergerak tak meyakinkan. Benar saja, di stasiun selanjutnya ia kembali berhenti.

Apa yang bisa kulakukan? Pergi ke pintu, membukanya, melompat keluar dan berganti moda transportasi? Pfff, siapa jamin bisa tiba lebih cepat di lalu lintas pagi hari Rabu ini?

Aku membeku. Membeku yang sebenar-benarnya karena selimut sudah diambil oleh pramugara sementara AC gerbong masih perkasa menghembuskan hawa dingin.

"Allah, help me," bisikku sangat pelan sambil memandang ke luar jendela.

"Eh, maaf, aku tadi ketiduran. Ini di stasiun mana ya?" Mbak yang duduk di sebelahku baru terbangun rupanya.

"Oh... Kayaknya...emm...aku juga ngga tau..." Aku nyengir. Jendela berembun, sulit melihat tulisan di luar sana. Dia tertawa pelan.

Kami mulai berbincang agak panjang. Kereta tak kunjung bergerak.

***

Pukul 08.32 waktu Jatinegara. Menurut jadwal, seharusnya aku disini sejak tiga jam yang lalu. Keterlambatan kereta yang super buruk yang hanya diganti dengan permohonan maaf yang diulang-ulang.

Aku berjalan cepat melewati peron menuju pintu keluar. Kucari wajah tukang ojek langganan keluargaku disitu. Tak ada.

Aku menaiki satu per satu anak tangga jembatan penyebrangan yang terintegrasi dengan halte trans Jakarta. Dari atas jembatan aku cari tukang ojek yang sudah menungguku sejak jam 6 pagi. Oh, dia di bawah sana, di ujung tangga.

"Kang, ke Persahabatan," ujarku sambil buru-buru naik ke atas boncengan.

"Loh? Langsung nih, nggak pulang dulu??" Si ojek heran.

"Iyak, langsung aja," sahutku cepat.

Ini plan B. Tak mungkin kuburu SKCK pagi ini karena berkas persyaratan yang diperlukan ada di rumah, sedangkan tak ada siapa-siapa di rumah yang bisa dimintai tolong untuk mengantarkan berkas. Saat ini ada seorang teman menungguku di rumah sakit Persahabatan. Paling tidak aku bisa mencari informasi dan berdiskusi dengannya. Dan, jika aku tak bisa mendapatkan tiga dokumen krusial yang kubutuhkan, paling tidak hari ini aku bisa mendapatkan dua: surat keterangan sehat dan bebas narkoba.

Tapi bukankah hari ini kesempatan terakhir melengkapi berkas? Ya, biar Allah yang mengurusnya. Aku sudah disini untuk mengejar semuanya dengan maksimal. Itu bagian yang harus kuselesaikan.

***

Tanpa mandi, tanpa gosok gigi, tanpa sarapan, tanpa persiapan tempur yang memadai, aku berdiri di depan gedung tempat mengecek kesehatan dan urine.

Kubuka pintu gedung yang berkaca gelap itu. Woh, ramainya orang di dalam. Ramai betul seperti pasar di tanggal muda.

Welcome to the jungle.

***

Tak ada pengorbanan yang sia-sia.
Kalimat itu dilontarkan oleh salah seorang teman ketika kuceritakan bahwa aku harus mempercepat kepulanganku ke Jakarta dan mengorbankan waktuku bersama keluarga di Jogja. 

Kalimat itu sebenarnya terlontar asal saja. Sepik, istilah prokemnya begitu, tapi benar. Allah itu menghitung apapun yang hamba-Nya lakukan. Aku jaga niatku agar jika rejekiku Allah tambah, aku bisa lebih banyak bersyukur. Aku jaga niat itu agar "sepik" kawanku itu menjadi sesuatu yang benar dan bermakna.

Kondisi sempit, terjepit, ditimpa kecemasan, sungguh menjadi sebuah berkah. Rendah, papa diriku dihadapan-Nya. Tak ada daya, tak ada upaya jika bukan Allah yang berkehendak membantuku. Dekat sekali aku pada-Nya. Begitulah manusia, meneriakkan nama-Nya lebih nyaring saat kondisi menjepitnya.

Keyakinan bahwa Allah akan selalu menolongku, kewajiban untuk berikhtiar, doa yang dikirimkan oleh ibuku melalui WhatsApp, telepon dari bapak yang menanyakan progress-ku adalah bahan bakar yang menggerakkan kakiku melangkah. 

Dari kisah ini, tak tertutup kemungkinan aku dituding budak dunia. Itu masalah mereka dengan pikirannya. Biarlah. Yang kupegang erat adalah salah satu prinsipku: semakin banyak yang kumiliki, semakin banyak pula yang bisa kuberi. 

Di akhir tulisan ini aku ingin menggarisbawahi sebuah janji yang Allah peruntukkan bagi manusia: Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Tak perlu memberi celah sangkaan negatif hadir tentang-Nya. Jika kita yakin Allah senantiasa membantu kita, maka Ia membuka beragam jalan alternatif atau bahkan yang tak diduga untuk keluar dari kesempitan.

Aku berhasil menyelesaikan berkasku tepat waktu. Ada banyak peran teman-temanku dalam proses pemberkasan itu. Dan itu semua Allah Yang menggerakkan, atas izin-Nya.

Semoga bisa diambil hikmahnya.







Monday, November 23, 2015

Mendefinisikan Rindu



Rindu itu misalnya kamu berada di sebuah tempat yang duluuuuu kamu dan  dia, dia, dia menghabiskan waktu bersama-sama.

Rindu itu misalnya kamu kepingin banget ketemu orang-orang yang dirindukan, ketawa-ketiwi lagi, bersusah payah bareng lagi, tapi waktu dan tempat hanya menyediakan ruang bercakap dalam jendela-jendela percakapan (alias window chat!).

Rindu itu misalnya kamu menatap setumpuk pekerjaanmu, menjalani rutinitasmu sebagai seorang pekerja, tapi isi kepalamu bukan itu semua. Dalam kepalamu ada dia, dia dan dia yang pernah membuat pikiranmu dalam kondisi alpha.

Rindu itu misalnya kamu ingin berbincang, bertukar kisah dan ide, duduk bersama lebih lama, tapi lagi-lagi, ruang dan waktu hanya mengizinkanmu untuk bercakap menanyakan kabar, tak lebih dari lima-sepuluh menit.

Rindu itu misalnya ketika kamu membuka kembali folder-folder yang dibuat setahun dua tahun silam berisi fotomu dengan dia, dia dan dia, dan kamu bisa senyum-senyum sendiri, tapi hati kok sesak?

Rindu itu misalnya ketika kamu tanpa sengaja melihat barang yang identik dengan dia, dia, dan dia, tapi kamu kemudian menyadari bahwa bukan dia, dia dan dia yang sedang menggunakan barang tersebut. Sesak ya?

Rindu ini untuk dia, dia dan dia, yang pernah melangkah beriringan bersamaku sambil bertukar kisah dan berbagi semangat.
Rindu ini untuk dia, dia dan dia, yang hidupnya bukan sekedar untuk dirinya, namun dibagi untuk sahabat-sahabatnya.
Rindu ini untuk dia, dia dan dia, yang pernah menciptakan derai tawa tak usai yang terkadang ditujukan untuk kekonyolan diri sendiri.

Aku tuh rindu... rindu kalian...




Tuesday, July 21, 2015

Tentang GOJEK dan Beberapa Tips ber-GOJEK

Kamu tau Gojek? Belum? Itu lho, ojek yang pake seragam jaket dan helm hijau, dan belakangan ini sangat mudah ditemukan di ruas-ruas jalan di Jakarta (dan mungkin juga di beberapa kota lain..). Tukang ojek ini bisa dicari dan di-booking via aplikasi smartphone. Quite practical...

Nah, saya mau share pengalaman pertama menggunakan jasa Gojek... Ya, seperti biasa, saya kalo sharing ya info level newbie... Dari newbie untuk newbies, hehe... 

Pertamaa... Karena saya newbie, saya cari info dulu tentang Gojek. Mulai dari cara bookingnya, availability drivernya, biayanya, kendalanya, sampai tingkah polah drivernya... Dan saya pilih untuk cari dan intip info melalui akun twitter Gojek di @gojekindonesia. Wah, pas diintip, lini masanya kok penuh komplain? Hahahaha... Kalo begini saya jadi ketar-ketir dag-dig-dug serr.. :-| Rata-rata komplain yang ada tentang tidak tersedianya driver, kemudian Gojek credit yang tetiba berkurang jumlahnya, ada pula segelintir yang mengeluhkan attitude driver. Saya bersyukur tau info-info ini lebih awal, jadi saya bisa nyiapin plan A, B, C untuk perjalanan saya... Hehe...

Keduaaa... Cara pembayaran driver Gojek ada dua: credit dan cash. Credit itu semacam sistem prabayar. Kita transfer sejumlah uang dan itu jadi kredit (baca: tabungan) kita. Setiap kita pake jasa Gojek, maka kredit kita akan terpotong otomatis sesuai ongkos service yang telah digunakan. Kalau cash ya yu know laaah.. Langsung kasih uang ke drivernya. Kedua cara pembayaran ini muncul di aplikasi ketika proses booking. Kita bebas memilih. Kalo jarang pake Gojek, mendingan bayar cash deh.. Karena sistem Gojek creditnya kadang eror. Asik sih kalo credit kita tetiba bertambah, tapi kalo tetiba berkurang tanpa alasan (duileh...) ? Paitt paitttt...Hikss...
Etapi berhubung kemarin saya dikasih credit gratis sebesar 50k sama temen saya yang baik hati nan chubby, saya jadi merasa nothing to lose untuk pake Gojek credit... Hehe..

Ketigaaa... Ini terkait dengan komplain terbanyak, tersering dan ter-riuh yang dilontarkan para pengguna jasa Gojek: ga dapet driver. Lebih bikin spaneng lagi ketika kita dapet notif "cannot find driver" padahal di Gojek map terpampang dengan jelas jumlah Gojek driver yang bejibun dalam radius 100 m dari posisi kita.  Dan saya merasakan hal iniiii....! Bahkaaan gojek driver yang lagi free bukan hanya terpampang di map, tapi di depan mata sayaaa.. Dan mereka ga mau ambil orderan sayaa... Huaaahuaahuaa..

Jadi, posisi saya di FX Sudirman, dalam kondisi kenyang (ya, biar kamu tau aja, trus kamu iri sama saya :-p). Saat saya galau nunggu respon dari driver di pangkalan Gojek FX, pak Abdul (doi ini driver Gojek yang bakal anter temen saya ke Pasar Minggu, tapi delay karena temen saya masih nunggu saya dapet driver) bilang kalo tempat tujuan berpengaruh ke cepet/ enggaknya orderan kita direspon. Kalo pas lagi banyak order, driver milih-milih juga. Mereka enggan ke tempat-tempat macet kayak Cileduk atau Kalimalang (ini kan lokasi rumah gueee, hikss). Tapi kalo kita beruntung, bisa aja dapet driver ke tempat-tempat tersebut, sekalian drivernya jalan atau mau pulang (biasanya pas malam hari).

Saran dari pak Abdul, destinasinya diganti. Kayak saya kemudian mengganti destinasi saya, dari Kalimalang jadi Pondok Bambu. Alhamdulillah, sekitar 5 menit nunggu, finally orderan saya ditanggapi oleh seorang driver yang sedang melintas di Plaza Senayan. Saya memang nggak diantar sampai depan rumah, karena destinasinya cuma sampe depan komplek. But it's fine....

Khusus tentang hal satu ini, menurut saya wajar driver-nya picky. Mereka dapet bonus berdasarkan jumlah order, bukan jumlah km atau jam kerja. Jadi mereka coba bekerja efektif dan efisien dalam mengambil order. Selama bisa milih, ya mereka akan milih order.. Kita juga gitu kan kalo kerja..? Efisien dalam mengeluarkan tenaga, tapi efektif dalam pencapaian target, hehe...

Keempat.. Mengenai driver itu sendiri. Alhamdulillah saya dapet driver yang baik. Saking baiknya sampai komunikasinya berbuntut: sms nanya udah sahur atau belum, hihi... Tapi maaf ya bang Gojek, komunikasinya cukup perihal perGojekan aja, jadi ngga satu pun smsnya saya balas. Hehe...

Terakhiir... Selama masa promo cebanRamadhan, boleh lah kasih tip buat drivernya. Ceban itu murah bingits untuk harga ojek. Tambahan dua atau tiga ribu bisa bikin drivernya senang dan rejeki kita berkah (aamiin).

Jadi begitulah petualangan pertama saya di dunia perGojekan. Ada galaunya, ada senengnya. Yang perlu diinget, driver Gojek juga manusia, butuh hidup dan menghidupi. Jadi coba wise aja menanggapi segala kekurangan, nggak perlu komplain berbumbu caci maki ☺ selamat berGojek ☺


Monday, April 27, 2015

Ulasan Ringan Film "Guru Bangsa Tjokroaminoto"



Heyho…

Sudah nonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto? Belum? Better to watch it ASAP, karena jadwal tayangnya sudah mulai berkurang di bioskop-bioskop. Sayang lho kalau ngga nonton…

Hummm… Sebenarnya saya bukan tipe manusia yang doyan nonton di bioskop. Yaa, gimana yaaa, menurut saya siih, uang tiketnya lebih baik dialokasikan untuk keperluan lain. Kalau mau nonton film, mendingan streaming atau unduh, hehe… tapi untuk film-film berkualitas, terutama film Indonesia ♫ ♪ aku relaaakan puluhan ribu rupiaaahku ditukar dengan tikeet bioskoop ♪♫ *ndangdut*

Well, well…

Sampailah saya pada waktu dimana teman-teman di sekitar saya menjadikan film GBT buah bibir. Selain testimoni yang positif, petikan ucapan HOS Tjokroaminoto yang dalam dan terkenal itu: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” bikin saya kepo, tertarik dan segera menentukan jadwal nonton. Janjian sama ibu guru Nur dan bapak guru kembar, Rokhman dan Rokhim, fix nonton hari Kamis, tanggal 23 April kemarin.

Sekitar lima menit sebelum film dimulai, kami berempat sudah duduk manis di kursi studio. Nggak lama kemudian, film dimulai. Kami disajikan adegan serius, adegan lucu, dan bagian film yang disturbing (dikit sih…) yang bikin saya memilih untuk tutup mata. Ada pula bagian yang bikin kening berkerut dan hati bertanya-tanya, “tokoh itu siapa sih? Lokasinya dimana sih? Mau pergi naik kereta kemana sih?”. Dan bu guru Nur, si perempuan Aceh bertanya, “konco-konco itu artinya apa sih?” hehehe…

Nonton GBT itu harus super nyimak. Karena setiap dialog atau ucapan tokoh di film tersebut memberi petunjuk tentang alur kisah dan nama-nama tokoh atau nama tempat yang tidak dideskripsikan secara visual. Bagi penonton yang pengetahuan sejarah-nya biasa-biasa aja, kalau ada dialog yang terlewat ia dengar, maka akan cukup sulit untuk memahami kisah secara utuh. Contohnya saya, heuheuheu…

Bagi yang awam banget, film berdurasi dua setengah jam ini mungkin memang terasa monoton. Tapi mungkin begitulah hakikat (ceileh) film dengan genre biografi. Penonton yang ngga paham sejarah dan ngga punya minat dengan sejarah, akhirnya Cuma punya dua pilihan saat nonton: 1. Duduk bosan, dan 2. Ngobrol atau ketawa-ketiwi bareng rombongannya untuk mengusir kebosanan. Sayangnya, kami berempat satu studio dengan penonton awam yang tipe kedua, yang bikin suasana studio nggak nyaman dan membuyarkan konsentrasi kami. Plis guys, kalo kalian merasa ngga cucok dengan film yang ditonton, lebih baik langsung ke pintu EXIT atau bobok di kursi aja yaaaa…

Selesai nonton, lanjut acara makan bareng, dari jam 6 sore sampai jam setengah 9 malam. Kami makan gaya siput yah? Hehe… Maklum, nunggu pesanan lengkap aja butuh sekitar 15 menit, ditambah diskusi dan browsing-browsing tentang film yang baru aja ditonton. Buat orang seperti saya, yang masih lack of knowledge tentang sejarah, kegiatan pasca nonton yang seperti ini yang penting. Film itu “hanya” pancingan untuk menggali pengetahuan yang lebih banyak dari sumber-sumber lain. Misalnya gini nih, di film GBT, ada murid-murid H.O.S Tjokroaminoto yang dikisahkan tidak terlalu mendetail. Pasca nonton, akan sangat bermanfaat jika kisah mereka kita gali sendiri secara lebih dalam dan lebih mendetail, bisa dengan googling atau bertanya ke ahlinya. Buat nambah ilmu, jadi acara nontonnya bermanfaat.

Dari acara ngobrol-ngobrol sambil makan itu, terkuaklah penilaian tentang film GBT ini. Kami satu kata untuk kelebihannya: latar dan property yang benar-benar dikondisikan untuk sesuai dengan situasi awal tahun 1900an. Sangat baik sekali. Pemeran-pemeran tokoh di film tersebut juga berakting dengan baik. Wes, yang main kan sekelas Didi Petet, Christine Hakim, Sudjiwo Tedjo, Reza Rahadian. Termasuk orang-orang Belanda-nya, mantap aktingnya.

Kekurangan film ini, bagi kami berempat (ini subjektif banget ya), adalah alur cerita yang rumit. Ada bagian-bagian yang kami ngga ngerti. Menurut saya pribadi, konten film ini sangat padat. Sutradara dan penulisnya ingin menyampaikan momen-momen penting dan bersejarah yang dilalui oleh Tjokroaminoto, yang jumlahnya tidak sedikit. Terbatasnya durasi menjadikan momen-momen itu terkadang ditampilkan dengan sangat singkat. Ini yang sangat mungkin membuat penonton gagal paham dalam menangkap kisahnya. Jadi, alangkah baiknya bagi yang mau nonton film ini untuk membaca biografi H.O.S Tjokroaminoto terlebih dahulu sebelum masuk bioskop. Biografi yang singkat saja, misalnya dari Wikipedia, akan sangat membantu mencerna setiap bagian film ini.

Jadi…..

Terlepas dari kekurangannya, film Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah salah satu yang layak direkomendasikan untuk ditonton. Ini film dengan genre bagus: biografi, yang sarat dengan pengetahuan, nilai-nilai humanism, nasionalisme dan kearifan yang bersifat universal. Berapa banyak produser yang mau bikin film seperti ini? Rasanya ngga banyak. Nah, mumpung ada yang bikin, mari kita ramaikan bioskopnya, hehe… Kalau sebuah film laris kan biasanya banyak produser lain yang akan mengekor bikin film serupa…  Jadi, nanti akan banyak juga film-film berkualitas beredar… Kita nantikan film berkualitas lainnya ya… J


Wednesday, April 1, 2015

The Banning of Indonesian Islamic Websites - A Humble Opinion From An Internet User

Malam ini gue akhirnya harus menghela nafas. ISP langganan gue mulai ngeblokir salah satu situs yang sering gue kunjungi: dakwatuna.com.

Since yesterday, people have been talking about the banning of 19 (or 22) Islamic sites. This action is done by the Ministry of Communication and Informatics (Kemkominfo) based on the recommendation given by BNPT. The wave of protests, esp. in online media, has been rising up to now.

Some of my friends may say, the sites spread radicalism, ISIS' idea. Well, I ask them then, "Have you ever visited and read the content of that site?". They answered, "No."

I, of course, do not agree with any kind of violence - no matter who does it. I'm against with what's done by ISIS. If those 19 sites bring up the idea of terror, then I'll support the ban.

In another side, it's better for anyone who supports the step taken by BNPT and Kemkominfo - banning 19 Islamic sites- to prove that the action is proper. They have to show the people any article or content of the sites that drag people into radicalism. If they are able to do so, it's gonna be fair enough.

In fact, based on the report tweeted by @YolaDamayanti - a Dakta Radio journalist- who attended the meeting between BNPT, Kemkominfo and the representatives from seven sites which got banned, the PR of BNPT explained that the banning of those 19 sites was because they use dot com domain that is considered as a privilege to US's sites. It means that Indonesian sites are forbidden to use the domain. LOL. Such an explanation that is very far from public expectation.

Goodness. What is actually happening in this country? I visit Islamic sites to broaden my knowledge on Islam, not to become radical (although I'm not sure about the criteria of being radical. I just use my own assumption: being radical is probably like ISIS). I've reduced my time in front of television as it offers me, mostly, unworthy programs. Meanwhile, online media offers me a freedom to choose news, articles or contents which I need.

I know that there are still plenty of Islamic sites that can be accessed. But that's not the point. Today, the government banned 19 sites only, we don't know how many Islamic sites that will be treated the same in the future (I hope there will be no more). For me, as an internet user, I am just wondering what factors that encourage the govt to take such an irritating step? It's gonna be wise if they ensure the public by giving some proves that those sites spread radicalism. Unfortunately, they don't do it and keep silent.

Then, #BringBackTheIslamicMedia #KembalikanMediaIslam

Tuesday, March 24, 2015

Resep Makan Siang Nikmat: Udang Goreng Saus Tiram. Nyam!

Udang Goreng Saus Tiram ala LiaAqeela

Hai haii everibodeh!

Ini waktu jelang makan siang (dan jelang bobo ciang bagi yang menunaikan, hihi...), mengingatkan dakuh akan sebuah resep makan siang nan lezat dan nikmat. Bahan dasar menu ini semua orang suka, kecuali, maaf ya, yang alergi atau kolesterol tinggi. It is... U D A N G... jeng! jeng! hehe...

Basically, resep ini aku ngintip dari situs ini lho, dengan sedikit pengurangan bahan, hihi...

Aslinya, bahan-bahannya seperti berikut inih...

500 gram udang ukuran besar, cuci bersih (kalau tidak suka berkulit, kupas dan buang kepalanya, sisakan ekornya, belah punggungnya)
8 sdm margarine
5 siung bawang putih, cincang halus
1 buah bawang bombay ukuran sedang, kupas dan potong kotak (atau sesuai selera)
5 sdm saos tiram
1 sdm kecap ikan
3 sdt gula pasir
1/2 sdt merica bubuk
50 ml air
2 batang daun bawang, potong-potong 1 cm

Bahan Perendam:
1/2 sdt garam
1 sdt merica bubuk
1 buah jeruk nipis, ambil airnya
2 sdt bawang putih yang sudah dihaluskan


Cara Membuat:
1. Lumuri udang dengan bumbu perendam, diamkan 30 menit.
2. Panaskan margarine, goreng udang berbumbu hingga berubah warna dan kering. Sisihkan.
3. Panaskan sisa margarine di wajan bekas menggoreng udang, lalu tumis bawang putih dan bawang       bombay sampai harum.
4. Tambahkan saos tiram, kecap ikan, gula pasir, merica dan air. Masak sampai kuah kental.
5. Masukkan udang goreng serta daun bawang, aduk rata. Angkat.

Naah, aku praktek sesuai dengan resep diatas. Tapi ada satu hal yang beda: aku delete bawang bombay. Kenapa? Ngga kenapa-kenapa, ngga nemu aja di dapur, jadi skip. hehe...

Menu ini mudah dibuat dan enak bingits terutama disantap saat masih panas.
Selamat mencoba yaaaaa :)

Sunday, March 22, 2015

Sekali Mendayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui: Investasi Masa Depan Saat Berkendara


Haluuuu... buat yang udah baca postingan sayah sebelumnya Macet dan Keabsurdan Pengemudi, saya akui ajah, tulisan itu sebenernya belum selesai, hihihi... keburu ngantuk jadi endingnya dipercepat :D

Naaah, di postingan ini, saya mau melanjutkan dan menambahkan uneg-uneg.. masih berkaitan dengan kisah Jum'at petang ituuh... jangan pusiang bacanya yaaah, hehe...

Yak, mulai...!

Guys, barangkali kita pernah dengar atau baca cerita-cerita orang menggunakan moda transportasi umum dimana mereka punya kesempatan berinvestasi masa depan (baca: akhirat) dengan memberikan tempat duduk untuk penumpang wanita atau bumil atau yang sudah sepur, eh, sepuh. Sebuah tindakan mulia tiada tara dan tiada bandingnya (halah). Di kelompok ngaji saya, yang seperti itu disebut-sebut termasuk itsar, yaitu mendahulukan kebaikan untuk orang lain dibandingkan diri sendiri. Dan, kata guru ngaji saya, itsar itu tingkatan paling tinggi dalam sebuah ukhuwah aka ikatan persaudaraan dengan orang lain.

Selain memberikan tempat duduk, masih ada banyak tindakan mulia tiada tara yang lain yang bisa dilakukan ketika menggunakan transportasi publik, misalnya: dzikir di kendaraan, baca buku, atau ngobrol sama penumpang sebelah, jadi mengurangi kebetean di kala macet, hehe... atau, senyum dan memaafkan penumpang sebelah yang nggak sengaja nginjek kaki kita gegara kendaraannya ngepot (yang naik transjak pasti hafal banget sama kondisi kayak gini, hihihi...)... atau ngasih uang recehan ketika ada penumpang yang kekurangan ongkos, heuheu.. (mungkin ngga yah? ya, mungkin aja sih, satu diantara sejuta kasus, hehe...)

Naah, hal-hal kayak gitu kan ngga mungkin dilakukan sama yang berkendara dengan kendaraan pribadi, baik itu mobil ataupun motor. Saya pernah dengerin yang namanya dzikir pagi-petang al-ma'tsurat pake earphone. Earphone-nya cuma saya pasang di satu telinga aja, supaya tetap bisa konsentrasi dengan keadaan lalu lintas. Kemudiaan, apakah yang terjadi?? Saya fokus nyetir, tapi bener-bener ngga bisa fokus dzikir, haha... Sejak itu saya ngga pernah nge-earphone lagi, bahaya dan melanggar aturan :p

Saya juga ngga mungkin ngobrol sama pengendara lain untuk mengurangi kebetean, yang ada malah menambah kebetean, terutama pengendara yang posisinya di belakang saya, hihihi...

Dan untuk itsar, itu pastinya sulit banget. Misalnya saya ketemu ibu hamil, saya bilang, "bu, bu, silakan pake mobil saya untuk bepergian." eaaa... saya belum jadi milarder, jadi sepertinya ngga memungkinkan bagi saya mempersilakan orang yang membutuhkan untuk menggunakan kendaraan yang saya pake. hehehe...

Anyway, Allah is fair, gitu kan. Siapapun, dalam kondisi apapun, tetap bisa berinvestasi masa depan.

Kalau lagi mengendarai motor, kena macet, adanya trotoar kosong itu godaan luaaar biasa, hahaha... riders bisa dengan mudah ngetrek di trotoar. Tapi apa iya pantas? Saya kadang-kadang jadi pedestrian juga. Gondok kalau trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki, di take-over sama pengendara motor. Sakiiiiiittt... hihi... Jadi drivers/ bikers yang ingin investasi, cobalah untuk jangan pernah ambil space trotoar sebagai lajur kendaraan kita. Karena dibalik arogansi itu, ternyata ada yang diam-diam tersakiti ^_^

And theen... tau garis stop, kan? drivers/ bikers pasti tau, apalagi yang sering mantengin akun twitter TMC Polda Metro Jaya, hehe... Naah, kata TMC Polda Metro Jaya, di depan garis stop itu ada hak penyebrang jalan. Pernah lihat pedestrian nyebrang jalan dan kesulitan nyelip-nyelip diantara kendaraan yang berhenti di zebra cross? Saya pernah lihat, dan juga pernah merasakan. Sakiiiiit lagiii... (kayaknya memang pedestrian yang paling banyak tersakiti di jalan raya, heuheu..). Dear drivers/ riders, coba yuks memberi kemudahan bagi mereka yang ingin menyebrang lewat zebra cross. Kita ngga rugi apapun untuk berhenti di belakang garis stop.

Ada hal lain lagi yang bisa kita lakukan untuk berinvestasi. Dan ini yang paling berkaitan dengan pengalaman saya di Jumat petang itu: mendahulukan penyebrang jalan. Saya kadang menyetir mobil, sering menyetir motor, kadang menjadi pejalan kaki, sehingga saya memiliki sudut pandang dari ketiga posisi tersebut. Jika saya adalah driver mobil di kejadian Jum'at petang itu, saya akan mempersilakan pengendara yang ingin menyebrang. Kenapa? Ada kalanya, kita harus mempersilakan pengendara lain melaju, justru supaya tidak membuat kemacetan kian bertambah parah. Apalagi cuma memaksakan untuk maju setengah meter, kemudian stuck, yang tidak membuat kita lebih cepat tiba di tujuan. Diluar kasus itu, saya memang selalu memberi kesempatan orang lain menyebrang (jika jarak dan kecepatan kendaraan memungkinkan untuk berhenti, karena kalau memaksakan berhenti mendadak justru bahaya untuk kendaraan di belakang). Ngga sulit untuk memberi kesempatan orang atau kendaraan lain menyebrang (as long as mereka menyebrang di tempat yang tepat). Yang sulit itu melawan ego. Ego yang bikin drivers/ bikers enggan mengerem dan berhenti selama beberapa detik untuk memberi kesempatan orang lain menyebrang. Padahal, beberapa detik yang kita sediakan untuk mendahulukan penyebrang jalan, bisa saja menjadi sebuah kebaikan berlipat balasan dari-Nya.

Hal-hal yang saya sebutkan tadi adalah beberapa prinsip berkendara saya. Hal-hal sederhana, dan mudah. Tapi dibalik semua yang sederhana itu, tetap terkandung hal-hal yang bersifat filosofis, terutama bagi mereka yang percaya bahwa Allah itu menghitung setiap kebaikan dan keburukan, sekecil apapun. Eh, eh, saya sok jadi malaikat ya? hahaha... Sebenarnya siih, justru karena saya merasa banyak melakukan kesalahan, harus pintar-pintar mengambil kesempatan berinvestasi, walau cuma bisa yang kecil-kecil.

Buat yang mau share tips investasi masa depan saat mengendarai kendaraan pribadi, silakaaan... kolom komentar ngga pernah saya tutup, hihi... :)

Selamat berkendara, dan tetap safety riding yaa ^^